Stress Bisa Bikin Sakit Gigi dan Mulut? Ini Hubungan yang Jarang Diketahui
drg. Refina | 30 April 2026

Kesehatan jiwa merupakan kondisi ketika individu mampu mengenali potensi dirinya, menghadapi stres sehari-hari secara wajar, bekerja secara produktif, serta berperan dalam lingkungan sosial. Kesehatan mental tidak terpisahkan dari kesehatan fisik, karena keduanya saling berhubungan dan memengaruhi cara seseorang berpikir, merasakan, dan bertindak.
Stres adalah respons normal terhadap berbagai tuntutan kehidupan, yang juga dapat disebut sebagai gangguan mental emosional atau distres psikologis. Kondisi ini menunjukkan adanya perubahan psikologis pada seseorang. Gangguan tersebut dapat dialami oleh siapa saja dalam situasi tertentu, namun umumnya bersifat sementara dan dapat kembali normal.
Stres dalam tingkat ringan dapat memberikan manfaat, bahkan berdampak positif seperti meningkatkan kinerja, motivasi, dan kemampuan adaptasi terhadap lingkungan. Sebaliknya, stres yang tinggi dapat menimbulkan gangguan biologis, psikologis, dan sosial. Stres dapat dipicu oleh faktor eksternal dari lingkungan maupun persepsi internal individu.
Menurut Lin, stres dapat memengaruhi sistem kekebalan tubuh yang diduga berperan dalam timbulnya penyakit gigi dan mulut. Penelitian lain menunjukkan bahwa individu yang mengalami stres memiliki akumulasi plak, kedalaman poket periodontal, serta kadar IL-6 dan hormon kortisol yang lebih tinggi dibandingkan kelompok kontrol. Hal ini memperkuat bahwa kecemasan dan depresi berperan penting dalam perkembangan penyakit gigi dan mulut, khususnya penyakit periodontal, baik melalui perubahan perilaku maupun sistem imun.
Carranza menyatakan bahwa stres berpengaruh terhadap keberhasilan perawatan kesehatan gigi dan mulut, terutama terapi periodontal. Tingkat stres yang tinggi, ditambah dengan kebersihan mulut yang buruk, dapat memperparah penyakit periodontal. Kondisi ini ditandai dengan meningkatnya kehilangan perlekatan, kerusakan tulang alveolar, serta perdarahan gusi.
Hubungan stres dengan kesehatan gigi juga terlihat pada individu dengan kebiasaan mengatupkan atau menggemeretakkan gigi saat tidur, yang dapat merusak jaringan penyangga gigi.
Selain itu, stres dan kecemasan sering dikaitkan dengan munculnya Stomatitis Aftosa Rekuren (SAR). Stres berat dapat memicu respons imun dengan meningkatkan jumlah leukosit di area peradangan. SAR adalah peradangan pada mukosa mulut berupa ulser putih kekuningan, baik tunggal maupun multiple, yang biasanya muncul pada mukosa non-keratin seperti bukal, labial, lidah, dasar mulut, palatum lunak, dan orofaring. Lesi ini memiliki batas tegas dan dikelilingi area kemerahan.
Stres juga dapat memicu kebiasaan buruk seperti menggigit pipi atau bibir yang menyebabkan ulserasi. Luka ini dapat mengganggu aktivitas seperti makan dan berbicara, sehingga berpotensi meningkatkan stres. Penelitian menunjukkan bahwa mayoritas mahasiswa dengan riwayat SAR mengalami tingkat stres sedang.
SAR diketahui memberikan dampak lebih besar terhadap kualitas hidup dibandingkan masalah mulut lainnya seperti nyeri gusi, karies, susunan gigi, warna gigi, dan bau mulut. Secara umum, kualitas hidup penderita SAR lebih rendah karena memengaruhi aspek nyeri, fisik, psikologis, dan sosial.
Kesehatan mental dan aktivitas fisik terbukti berpengaruh signifikan terhadap kesehatan gigi dan mulut. Oleh karena itu, penting untuk menjaga kesehatan gigi dengan rutin memeriksakan diri ke dokter gigi serta melakukan aktivitas fisik minimal 30 menit per hari sebanyak 3–5 kali dalam seminggu.
Sumber :
1. Arma U, Afriza E, Hasendra SP. Hubungan stres dengan kualitas hidup terhadap kejadian stomatitis aftosa rekuren. J Ked Gi. 2023;35(1):14-19
2. Notohartojo, I. T., & Nainggolan, O. (2019). Hubungan kesehatan jiwa dan aktivitas fisik terhadap kesehatan gigi dan mulut (analisis lanjut Riskesdas 2013). Buletin Penelitian Kesehatan, 47(2), 135–142.