top of page

STRES – DEFINISI, PATOFISIOLOGI, GEJALA, & PENCEGAHAN

dr.Nanda | 27 November 2025

STRES – DEFINISI, PATOFISIOLOGI, GEJALA, & PENCEGAHAN

1. Pengertian Stres
Stres adalah respons biologis, psikologis, dan perilaku tubuh ketika menghadapi tuntutan atau tekanan yang dianggap melebihi kemampuan individu untuk mengatasinya. Stres adalah bagian normal dari kehidupan dan pada tingkat ringan dapat bersifat adaptif (eustress). Namun stres kronis atau berlebihan dapat menjadi distress, yang berdampak negatif pada kesehatan fisik dan mental.
Secara medis, diagnosis umum untuk stres yang tidak termasuk gangguan spesifik adalah:
➡ Z73.3 – Stress, not elsewhere classified (ICD-10).

2. Jenis Stres
1) Stres Akut
Terjadi singkat, biasanya sebagai respons terhadap ancaman atau tekanan mendadak.
Contoh: hampir kecelakaan, deadline mendadak.
2) Stres Episodik
Stres akut yang terjadi berulang.
Contoh: pekerjaan penuh tekanan, masalah keluarga berulang.
3) Stres Kronis
Berlangsung lama, sering tidak disadari, menyebabkan kerusakan fisik & mental.
Contoh: kemiskinan, konflik rumah tangga, caring burden.

3. Penyebab Stres (Stressors)
Beban pekerjaan berlebih
Masalah finansial
Konflik dalam keluarga atau hubungan
Tekanan akademik
Perubahan hidup mendadak
Kurang tidur
Penyakit kronis
Trauma emosional
Lingkungan kerja toksik
Penggunaan gadget berlebihan


4. Patofisiologi Stres
Stres memicu dua jalur utama:

A. Aktivasi Sistem Saraf Otonom (Fight-or-Flight)
Saat menghadapi stres, tubuh mengaktifkan Sympathetic Nervous System (SNS).
🔥 Dampaknya:
Peningkatan denyut jantung
Vasokonstriksi → tekanan darah naik
Peningkatan pernapasan
Pelepasan glukosa dari hati
Otot tegang (bahu & leher)
Neurotransmitter utama: adrenalin & noradrenalin.

B. Aktivasi HPA Axis (Hypothalamus–Pituitary–Adrenal)
Stres yang lebih lama memicu:
Hipotalamus melepaskan CRH
Kelenjar pituitari mengeluarkan ACTH
Korteks adrenal mengeluarkan kortisol


🔬 Efek kortisol:
Positif (jika sementara):
Meningkatkan energi
Meningkatkan fokus
Mengatur metabolisme

Negatif (jika kronis):
Penurunan imunitas
Gangguan tidur
Kerusakan hippocampus (memori)
Resistensi insulin
Peningkatan inflamasi
Gangguan mood

C. Sistem Limbik (Emosi)
Stres mempengaruhi:
Amygdala → persepsi ancaman meningkat
Hippocampus → memori & regulasi stres
Prefrontal cortex → pengambilan keputusan

Pada stres kronis, terjadi:
Atrofi hippocampus
Overaktivitas amygdala
Penurunan kontrol prefrontal → mudah marah, sulit fokus

5. Gejala Stres
A. Gejala Fisik
Sakit kepala
Otot tegang
Jantung berdebar
Gangguan tidur
Mudah lelah
Gangguan pencernaan (maag, diare, perut kembung)
Penurunan imunitas (mudah sakit)

B. Gejala Psikologis
Cemas
Mudah tersinggung
Mood naik turun
Merasa kewalahan
Sulit fokus

C. Gejala Perilaku
Perubahan nafsu makan
Menarik diri dari aktivitas sosial
Konsumsi kafein/rokok meningkat
Produktivitas menurun


6. Diagnosis
Diagnosis stres lebih bersifat klinis melalui:
Wawancara & riwayat stresor
Keluhan fisik & psikologis
Dampak pada fungsi sehari-hari


Kode ICD-10:
Z73.3 – Stress, NEC

Pertimbangkan diferensial: F41.x (anxiety), F32.x (depression), F43.2 (adjustment disorder)
Tidak ada biomarker khusus, tetapi kortisol salivary bisa digunakan dalam riset.

7. Penatalaksanaan
A. Intervensi Non-Farmakologis (Lini Pertama)
Sleep hygiene
Olahraga rutin (20–30 menit, 3–5x/minggu)
Mindfulness & meditasi
Latihan napas lambat
Manajemen waktu & prioritas
Mengurangi kafein & screen time
Support system
Makan bergizi


B. Intervensi Psikologis
Cognitive Behavioral Therapy (CBT)
Stress management training
Counseling

C. Farmakologis
Dipertimbangkan bila stres sudah berkembang menjadi:
gangguan cemas (SSRI, SNRI, anxiolytics)
depresi
insomnia berat
Catatan: obat bukan terapi utama stres, hanya bila ada gangguan penyerta.

8. Pencegahan Stres
Pola tidur teratur
Aktivitas fisik terjadwal
Mengatur ekspektasi & batasan diri
Teknik relaksasi
Menghindari toksik environment
Menjaga keseimbangan kerja–hidup
Berhenti gadget 1 jam sebelum tidur
Melatih kemampuan coping
Memelihara hubungan sosial yang sehat


9. Prognosis
Stres akut → biasanya pulih cepat.
Stres kronis → risiko penyakit kardiovaskular, diabetes, gangguan kecemasan, depresi, hingga sistem imun melemah.
Semakin cepat diatasi, prognosis semakin baik.


📚 Daftar Pustaka
Sariana E, Wijaya A, Siringoringo R.
A Systematic Review on Stress and Coping Strategies of Nursing Students.
International Scholars Conference Proceedings. 2024;12(1):1–12.
Slavich GM.
Stress and Health: A Review of Psychobiological Processes.
Psychosomatic Medicine. 2022;84(4):1–14.
Sinha R.
Chronic Stress, Neuroadaptation, and Drug Addiction.
Biological Psychiatry. 2020;87(10):864–876.

  • Grey Facebook Icon
  • Grey Twitter Icon

Klinik Satriabudi Dharma Medika © 2023

Thanks for submitting!

bottom of page