top of page

Snacking vs Makan Besar: Mana Lebih Berisiko Bikin Gigi Berlubang?

drg. Refina | 30 Januari 2026

Snacking vs Makan Besar: Mana Lebih Berisiko Bikin Gigi Berlubang?

Karies gigi merupakan penyakit yang terjadi akibat interaksi antara infeksi bakteri dan pola makan. Apabila tidak ditangani dengan baik, karies dapat menimbulkan rasa nyeri, menurunkan kualitas hidup, serta berdampak pada status gizi dan proses tumbuh kembang anak, terutama pada usia dini.

Berbagai penelitian menunjukkan bahwa pola makan masyarakat di negara-negara Barat telah mengalami perubahan signifikan dalam beberapa dekade terakhir. Terjadi peningkatan konsumsi makanan ringan yang tinggi energi namun rendah kandungan gizi. Pada anak-anak, lebih dari 30% asupan energi harian berasal dari makanan jenis ini, dan sekitar 75% populasi dilaporkan memiliki kebiasaan ngemil setiap hari. Pola ngemil juga dipengaruhi oleh kondisi sosial ekonomi. Anak-anak dari keluarga berpendapatan rendah cenderung lebih sering mengonsumsi keripik kentang, kentang goreng, susu tinggi lemak, dan minuman manis, sementara kelompok dengan pendapatan lebih tinggi lebih banyak mengonsumsi buah, susu rendah lemak, serta camilan berbahan serealia. Perubahan pola makan tersebut berhubungan dengan meningkatnya risiko berbagai penyakit, seperti diabetes melitus tipe 2, obesitas, dan karies gigi.

Masalah karies gigi pada anak usia sekolah sebagian besar berkaitan dengan kebiasaan mengonsumsi makanan manis, seperti permen, cokelat, kue, dan minuman bergula. Faktor lingkungan, baik di rumah maupun di sekolah, turut memengaruhi kebiasaan ini, terutama ketersediaan jajanan yang tidak ramah bagi kesehatan gigi. Makanan kariogenik umumnya mengandung gula tinggi dan bersifat lengket, sehingga mudah menempel pada permukaan gigi. Apabila sisa makanan tersebut tidak dibersihkan dengan baik, bakteri di rongga mulut akan memfermentasi karbohidrat dan menghasilkan asam. Asam inilah yang menyebabkan penurunan pH mulut dan memicu proses demineralisasi email gigi selama sekitar 20–30 menit setelah makan, sehingga mempercepat terjadinya karies.

Sejumlah penelitian juga menunjukkan bahwa keberadaan plak gigi, tingginya frekuensi konsumsi camilan manis, serta kondisi sosial ekonomi keluarga yang rendah berhubungan erat dengan status karies pada anak. Anak-anak yang hidup dalam kondisi ekonomi kurang menguntungkan atau memiliki keterbatasan akses terhadap edukasi kesehatan gigi cenderung memiliki risiko karies yang lebih tinggi. Temuan ini menegaskan bahwa asupan gula dan kebersihan mulut merupakan indikator risiko penting dalam terjadinya karies gigi.

Kebiasaan ngemil (snacking) diketahui memiliki risiko yang lebih besar terhadap terjadinya gigi berlubang dibandingkan dengan makan utama. Hal ini terutama disebabkan oleh frekuensi makan yang lebih sering. Setiap kali mengonsumsi makanan atau minuman yang mengandung karbohidrat, bakteri di mulut akan menghasilkan asam yang menyerang email gigi. Jika ngemil dilakukan berulang kali sepanjang hari, gigi akan terus-menerus terpapar asam tanpa memiliki waktu yang cukup untuk proses pemulihan alami. Selain itu, produksi air liur saat ngemil cenderung lebih sedikit dibandingkan saat makan utama, sehingga kemampuan saliva dalam menetralkan asam dan membantu remineralisasi gigi menjadi berkurang. Banyak camilan juga bersifat lengket, sehingga sisa makanan lebih lama menempel di permukaan dan sela-sela gigi.

Untuk mengurangi risiko terjadinya gigi berlubang, masyarakat dianjurkan membatasi kebiasaan ngemil dan mengutamakan pola makan teratur tiga kali sehari. Apabila diperlukan camilan, sebaiknya dikonsumsi dalam satu waktu dan memilih jenis makanan yang lebih ramah bagi gigi, seperti sayuran renyah atau buah yang tidak terlalu asam. Setelah makan atau ngemil, berkumur dengan air putih dapat membantu membersihkan sisa makanan. Menyikat gigi sebaiknya dilakukan minimal 30 menit setelah makan agar email gigi tidak rusak saat berada dalam kondisi yang lebih lunak.

Melalui penerapan pola makan yang sehat dan kebiasaan menjaga kebersihan gigi yang baik, risiko karies gigi pada anak dapat diminimalkan sejak dini.

Sumber :
1. Johansson, I., Lif Holgerson, P., Kressin, N. R., Nunn, M. E., & Tanner, A. C. (2010). Snacking habits and caries in young children. Caries Research, 44(5), 421–430
2. Ronaldo, F., Wiyono, H., & Anggraini, U. P. (2024). Hubungan kebiasaan konsumsi makanan kariogenik dengan kejadian karies gigi pada anak sekolah dasar kelas V di SDN 1 Bukit Tunggal Palangka Raya. Jurnal Kesehatan Medika Udayana, 10(1), 28–42

  • Grey Facebook Icon
  • Grey Twitter Icon

Klinik Satriabudi Dharma Medika © 2023

Thanks for submitting!

bottom of page