RHINITIS ALERGI
dr. Nanda | 12 Februari 2026

RHINITIS ALERGI
Pendahuluan
Rhinitis alergi adalah peradangan mukosa hidung yang dimediasi oleh imunoglobulin E (IgE) setelah paparan alergen. Kondisi ini ditandai dengan gejala khas berupa bersin berulang, rinore (pilek bening), hidung tersumbat, dan rasa gatal pada hidung. Rhinitis alergi merupakan salah satu penyakit alergi yang paling sering ditemukan di pelayanan kesehatan primer dan dapat menurunkan kualitas hidup, produktivitas, serta kualitas tidur pasien.
Secara global, prevalensi rhinitis alergi diperkirakan mencapai 10–30% populasi dan sering berkaitan dengan asma maupun dermatitis atopik.
Etiologi dan Faktor Risiko
Rhinitis alergi terjadi akibat paparan alergen, antara lain:
Debu rumah dan tungau (house dust mite)
Serbuk sari (pollen)
Bulu hewan
Jamur
Kecoa
Perubahan suhu atau udara dingin
Faktor risiko meliputi:
Riwayat atopi dalam keluarga
Riwayat asma atau dermatitis atopik
Paparan asap rokok
Lingkungan dengan ventilasi buruk
Klasifikasi
Menurut ARIA (Allergic Rhinitis and Its Impact on Asthma), rhinitis alergi diklasifikasikan berdasarkan:
1. Durasi
Intermiten: <4 hari/minggu atau <4 minggu
Persisten: ≥4 hari/minggu dan ≥4 minggu
2. Derajat Keparahan
Ringan: tidak mengganggu tidur dan aktivitas
Sedang–berat: mengganggu tidur, aktivitas, sekolah, atau pekerjaan
Patofisiologi
Rhinitis alergi merupakan reaksi hipersensitivitas tipe I (immediate hypersensitivity).
Prosesnya meliputi:
-Sensitisasi awal
Paparan pertama alergen memicu pembentukan IgE spesifik oleh sel B.
-Fase reaksi cepat (early phase)
Saat terpapar ulang, alergen berikatan dengan IgE pada permukaan sel mast → terjadi degranulasi → pelepasan histamin, leukotrien, dan mediator inflamasi lainnya.
Gejala yang muncul: bersin, gatal, rinore.
-Fase lambat (late phase)
Terjadi infiltrasi sel inflamasi (eosinofil, limfosit T) → menyebabkan sumbatan hidung persisten.
Histamin berperan besar dalam timbulnya gejala akut.
Manifestasi Klinis
Gejala utama:
Bersin berulang (≥5 kali berturut-turut)
Pilek bening
Hidung gatal
Hidung tersumbat
Gejala tambahan:
Mata gatal dan berair
Post nasal drip
Gangguan tidur
Kelelahan
Biasanya tidak disertai demam (membedakan dari rhinitis infeksi).
Diagnosis
Diagnosis ditegakkan berdasarkan:
1. Anamnesis
Gejala khas
Riwayat alergi pribadi/keluarga
Hubungan dengan paparan alergen
2. Pemeriksaan Fisik
Mukosa hidung pucat atau kebiruan
Edema konka
Rinore jernih
3. Pemeriksaan Penunjang (bila perlu)
Skin prick test
IgE spesifik
Hitung eosinofil
Di pelayanan primer, diagnosis umumnya bersifat klinis.
Diagnosis Banding
Rhinitis infeksi (common cold)
Sinusitis
Rhinitis non alergi
Rhinitis medikamentosa
Polip hidung
Penatalaksanaan
1. Edukasi dan Penghindaran Alergen
Membersihkan rumah secara rutin
Menggunakan vacuum dengan filter HEPA
Mengganti sprei minimal 1 minggu sekali
Menghindari paparan bulu hewan
2. Farmakoterapi
a. Antihistamin oral
Contoh: loratadin, cetirizine
Efektif untuk bersin, gatal, dan rinore.
b. Kortikosteroid intranasal
Merupakan terapi paling efektif untuk gejala sedang–berat.
Contoh: fluticasone, mometasone.
c. Dekongestan
Digunakan jangka pendek untuk sumbatan berat.
d. Antagonis leukotrien
Alternatif pada pasien dengan asma bersamaan.
3. Imunoterapi
Dipertimbangkan pada kasus persisten dengan respons terapi kurang optimal.
Komplikasi
Jika tidak ditangani dengan baik, rhinitis alergi dapat menyebabkan:
Sinusitis
Otitis media
Gangguan tidur kronis
Penurunan kualitas hidup
Perburukan asma
Prognosis
Rhinitis alergi bukan penyakit berbahaya, namun bersifat kronis dan dapat kambuh. Dengan kontrol alergen dan terapi yang tepat, gejala dapat dikendalikan dengan baik.
Kesimpulan
Rhinitis alergi adalah peradangan mukosa hidung akibat reaksi imun terhadap alergen yang dimediasi IgE. Gejala utama meliputi bersin, rinore, hidung gatal, dan sumbatan. Diagnosis bersifat klinis dan terapi meliputi penghindaran alergen serta farmakoterapi, terutama antihistamin dan kortikosteroid intranasal. Penanganan yang tepat dapat meningkatkan kualitas hidup pasien secara signifikan.
📚 Daftar Pustaka
Bousquet J, Khaltaev N, Cruz AA, et al. Allergic Rhinitis and its Impact on Asthma (ARIA) 2008 update. Allergy. 2008;63(Suppl 86):8–160.
Brożek JL, Bousquet J, Agache I, et al. Allergic Rhinitis and its Impact on Asthma (ARIA) guidelines – 2016 revision. J Allergy Clin Immunol. 2017;140(4):950–958.
Seidman MD, Gurgel RK, Lin SY, et al. Clinical Practice Guideline: Allergic Rhinitis. Otolaryngol Head Neck Surg. 2015;152(1 Suppl):S1–S43.
Jameson JL, Fauci AS, Kasper DL, et al. Harrison’s Principles of Internal Medicine. 21st ed. New York: McGraw-Hill; 2022.
Kliegman RM, St. Geme JW. Nelson Textbook of Pediatrics. 21st ed. Philadelphia: Elsevier; 2020.
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Pedoman Nasional Pelayanan Kedokteran Rhinitis Alergi. Jakarta: Kemenkes RI.