Merokok dan Risiko Kerusakan Gigi: Apa yang Perlu Diketahui?
drg. Refina | 09 Maret 2026

Kesehatan gigi merupakan bagian penting dari kesehatan tubuh secara keseluruhan. Gigi berperan besar dalam proses mengunyah makanan, sehingga menjaga kesehatan gigi sangat diperlukan agar fungsi tersebut dapat berjalan dengan baik. Menurut Be (1987), mulut dikatakan bersih apabila gigi-gigi di dalamnya bebas dari plak dan kalkulus (karang gigi). Terbentuknya plak di dalam rongga mulut dipengaruhi oleh beberapa faktor, seperti kondisi fisiologis, pola makan, lingkungan sekitar, serta kebiasaan merokok.
Plak adalah endapan lunak yang terdiri dari kumpulan bakteri yang berkembang dalam suatu matriks. Sementara itu, kalkulus atau karang gigi merupakan plak yang telah mengeras dan hanya dapat dibersihkan oleh dokter gigi atau perawat gigi.
Menurut Blum, perilaku merupakan faktor terbesar kedua setelah faktor lingkungan yang memengaruhi kesehatan individu, kelompok, maupun masyarakat (Notoatmodjo, 2007). Salah satu perilaku yang berdampak buruk bagi kesehatan adalah kebiasaan merokok. Merokok telah menjadi kebiasaan yang cukup umum di masyarakat dan menjadi masalah yang kompleks, khususnya dalam bidang kesehatan. Rokok sendiri tidak dapat dipisahkan dari bahan baku utamanya, yaitu tembakau.
Asap rokok mengandung berbagai zat kimia yang terdiri dari sekitar 85% komponen gas dan sisanya berupa partikel. Saat rokok dihisap, tar akan masuk ke dalam rongga mulut dalam bentuk uap padat. Setelah mendingin, tar tersebut akan mengendap dan membentuk noda berwarna cokelat pada permukaan gigi, saluran pernapasan, serta paru-paru (Yudhi, 2008). Endapan tar pada permukaan gigi membuat permukaan gigi menjadi lebih kasar sehingga memudahkan plak menempel (Manson, 2009). Selain itu, merokok juga dapat menimbulkan berbagai masalah kesehatan gigi dan mulut, seperti bau mulut (halitosis), penyakit jaringan pendukung gigi (periodontal), serta mempercepat terbentuknya karang gigi (Daliemunte, 2001).
Penelitian yang dilakukan oleh Preber dan Kant (dalam Candranata, 2013) mengenai efek merokok pada anak sekolah usia 15 tahun menunjukkan bahwa indeks kebersihan mulut pada perokok lebih buruk dibandingkan dengan yang tidak merokok. Candranata (2013) juga menyatakan bahwa pada perokok cenderung terbentuk lebih banyak plak dan karang gigi yang dapat menyebabkan radang gusi, seperti gusi berdarah dan bengkak. Gusi yang meradang juga cenderung sulit sembuh dan lebih mudah mengalami infeksi. Secara umum, perokok memiliki lebih banyak debris, kalkulus, gingivitis, dan periodontitis dibandingkan dengan bukan perokok. Selain itu, kandungan nikotin dan tar dalam rokok dapat menyebabkan perubahan warna gigi menjadi kuning serta meninggalkan noda cokelat kehitaman yang melekat kuat pada permukaan gigi.
Ketua Umum Persatuan Dokter Gigi Indonesia (PDGI), drg. Emir M. Muis, menyatakan bahwa banyak penyakit yang berawal dari kondisi mulut dan gigi yang tidak sehat. Menjaga kesehatan mulut berarti juga menjaga kesehatan tubuh secara keseluruhan, karena mulut merupakan pintu masuk berbagai benda asing ke dalam tubuh. Salah satu masalah utama yang sering menyebabkan sakit gigi adalah gigi berlubang. Jika tidak dibersihkan secara teratur, gigi berlubang dapat menjadi tempat berkembangnya kuman dan bakteri. Bakteri tersebut bahkan dapat masuk ke dalam aliran darah dan berkumpul di jantung. Beberapa penelitian juga menunjukkan bahwa bakteri yang terbawa aliran darah dapat menghasilkan enzim yang mempercepat proses pengerasan dinding pembuluh darah (aterosklerosis). Bakteri tersebut juga dapat menempel pada lapisan lemak di pembuluh darah sehingga plak yang terbentuk semakin menebal. Kondisi ini dapat menghambat aliran darah menuju jantung, sehingga pasokan nutrisi dan oksigen ke jantung menjadi terganggu. Jika berlangsung dalam waktu lama, jantung tidak dapat berfungsi secara optimal dan dapat menyebabkan penyakit jantung. Berdasarkan beberapa kasus yang diteliti, sekitar 54% pasien penyakit jantung memiliki riwayat penyakit periodontal (Malik, 2008).
Perokok perlu memberi perhatian lebih pada kesehatan gigi dan mulut. Selain menyikat gigi dua kali sehari setelah makan dan sebelum tidur, ada beberapa cara sederhana yang bisa dilakukan:
1. Gunakan pasta gigi yang mengandung fluoride
Pilih sikat gigi berbulu halus dan pasta gigi yang mengandung fluoride karena dapat memperkuat email gigi dan mencegah gigi berlubang. Perokok juga bisa menggunakan pasta gigi khusus yang membantu membersihkan noda tar pada gigi. Setelah menyikat gigi, sebaiknya gunakan benang gigi untuk membersihkan sela-sela gigi.
2. Batasi makanan dan minuman manis
Terlalu banyak gula dapat menyebabkan bakteri di mulut menghasilkan asam yang merusak lapisan gigi dan menimbulkan gigi berlubang. Oleh karena itu, kurangi makanan dan minuman manis serta perbanyak konsumsi buah dan sayuran.
3. Berhenti atau kurangi merokok
Cara terbaik untuk menjaga kesehatan gigi, mulut, dan tubuh adalah dengan berhenti merokok. Jika sulit, cobalah mengurangi secara bertahap atau meminta bantuan tenaga kesehatan.
4. Perbanyak minum air putih
Minum air putih setelah makan atau merokok dapat membantu membersihkan sisa makanan dan zat kimia dari rokok di dalam mulut. Selain itu, minum minimal 8 gelas air per hari juga dapat membantu mengurangi bau mulut.
5. Gunakan obat kumur
Selain menyikat gigi, berkumur dengan obat kumur juga penting untuk menjaga kebersihan mulut. Perokok dapat menggunakan obat kumur khusus yang membantu mengurangi pembentukan karang gigi.
Sumber :
- Arini, A. A. G. A., Agung, S., & Arta, A. S. (2023). Hubungan merokok dengan kebersihan gigi dan mulut pada remaja di Banjar Tunjuk Tengah Tabanan tahun 2019. Jurnal Kesehatan Gigi (Dental Health Journal), 10(1).
- Dinata, H., Sari, L., & Nuryani, D. D. (2012). Kebersihan gigi dan mulut pada perokok di SMK 2 Mei Bandar Lampung. Jurnal Kesehatan, 3(2).
- Listerine. (n.d.). Cara merawat kesehatan gigi untuk perokok. Diakses dari https://www.listerine.co.id/ragam-perawatan-kesehatan-gigi-dan-mulut-untuk-perokok