Mengenal Gejala Rabies pada Manusia dan Hewan
dr. Fifin | 06 Jan 2026

Rabies disebut juga penyakit anjing gila, adalah suatu penyakit infeksi akut disebabkan oleh virus rabies yang menyerang sistem saraf pusat manusia dan mamalia.
Penyakit ini sangat ditakuti karena prognosisnya sangat buruk. Pada pasien yang tidak divaksinasi, kematian mencapai 100%. Di Indonesia, sampai tahun 2007, rabies masih tersebar di 24 propinsi, hanya 9 propinsi yang bebas dari rabies, yaitu Bangka Belitung, Kepulauan Riau, DKI Jakarta, Jawa Tengah, Jawa Timur, Yogyakarta, NTB, Bali, Papua Barat dan Papua
Cara penularan rabies melalui gigitan dan non gigitan (goresan cakaran atau jilatan pada kulit terbuka/mukosa) oleh hewan yang terinfeksi virus rabies. Virus rabies akan masuk ke dalam tubuh melalui kulit yang terbuka atau mukosa namun tidak dapat masuk melalui kulit yang utuh
Rabies adalah penyakit zoonosis dimana manusia terinfeksi melalui jilatan atau gigitan hewan yang terjangkit rabies seperti anjing, kucing, kera, musang, serigala, raccoon, kelelawar. Penyebab rabies adalah virus dari genus lyssa virus dan termasuk ke dalam family Rhabdoviridae. Virus ini bersifat neurotropic, berbentuk menyerupai peluru dengan panjang 130 – 300 nm dan diameter 70 nm. Virus ini terdiri dari inti RNA (Ribo Nucleic Acid) rantai tunggal diselubungi lipoprotein. Pada selubung luar terdapat tonjolan yang terdiri dari glikoprotein G yang berperan penting dalam timbulnya imunitas oleh induksi vaksin dan penting dalam identifikasi serologi dari virus rabies.
Virus masuk melalui kulit yang terluka atau melalui mukosa utuh seperti konjungtiva mata, mulut, anus, genitalia eksterna, atau transplantasi kornea.
Masa inkubasi virus rabies sangat bervariasi, mulai dari 7 hari sampai lebih dari 1 tahun, rata-rata 1-2 bulan, tergantung jumlah virus yang masuk, berat dan luasnya kerusakan jaringan tempat gigitan, jauh dekatnya lokasi gigitan ke sistem saraf pusat, persarafan daerah luka. gigitan dan sistem kekebalan tubuh.
Gejala Klinis
1. Pada Manusia
-Tahap prodomal biasanya non spesifik berlangsung 1-4 hari dan ditandai dengan demam, lemas, lesu, tidak nafsu makan/anorexia, insomnia, sakit kepala hebat, sakit tenggorokan dan sering ditemukan nyeri.
-Tahap sensoris, Pada tahap ini sering ditemukan rasa kesemutan atau rasa panas (parestesi) di lokasi gigitan, cemas dan reaksi berlebih terhadap rangsang sensorik.
-Eksitasi, Pada tahap ini penderita mengalami berbagai macam gangguan neurologik, penderita tampak bingung, gelisah, mengalami halusinasi, tampak ketakutan disertai perubahan perilaku menjadi agresif, serta adanya bermacam-macam phobia yaitu hidrofobia, aerofobia, fotofobia. Gejala lainnya yaitu spasme otot, hiperlakrimasi, hipersalivasi, hiperhidrosis dan dilatasi pupil. Setelah beberapa hari pasien meninggal karena henti jantung dan pernafasan.
-Tahap paralisis, Gejala lainnya yaitu spasme otot, hiperlakrimasi, hipersalivasi, hiperhidrosis dan dilatasi pupil. Setelah beberapa hari pasien meninggal karena henti jantung dan pernafasan.
Pada Hewan
-Tahap prodromal, Tahap ini merupakan tahap awal dari gejala klinis yang berlangsung selama 2 – 3 hari.Terdapat perubahan perilaku hewan yaitu hewan tidak mengenal tuannya, sering menghindar dan tidak mengacuhkan perintah tuannya. Mudah terkejut dan cepat berontak bila ada provokasi. Terjadi kenaikan suhu tubuh, dilatasi pupil dan reflex kornea menurun terhadap rangsangan.
-Tahap eksitasi, berlangsung selama 3 – 7 hari, mulai mengalami fotofobi sehingga hewan akan bersembunyi dikolong tempat tidur atau dibawah meja. Pada tahap ini mulai terjadi paralisis otot laring dan faring yang menyebabkan perubahan suara menyalak anjing, suaranya akan berubah menjadi parau. Juga terjadi kekejangan otot menelan sehingga akan terjadi hipersalivasi, frekuensi nafas berubah cepat, air liur berbuih kadang disertai darah dari luka di gusi atau mulutnya.
-Tahap paralisis, Tahap ini berlangsung sangat singkatsehingga gejalanya tidak diketahui, terjadi kelumpuhan otot pengunyah sehingga rahang tampak menggantung. Suaranya sering seperti tersedak akibat kelumpuhan otot tenggorokan. Terjadi paralisis kaki belakang sehingga saat jalan kaki belakang diseret.
Dikenal terdapat 2 tipe rabies pada hewan, yaitu :
1.Pada rabies yang tenang, anjing tampak senang bersembunyi di tempat yang gelap dan dingin, serta tampak letargi. Dapat ditemukan kelumpuhan otot tenggorokan yang tampak dari banyaknya air liur yang keluar karena sulit menelan. Bisa juga ditemukan kejang-kejang singkat.
2.Pada rabies yang ganas, terdapat perubahan sifat dan perilaku hewan. Hewan yang awalnya jinak menjadi ganas, tidak menuruti perintah pemiliknya lagi, dapat menyerang manusia terutama adanya rangsang cahaya dan suara, suka menggigit apa saja yang dijumpai. Suara akan menjadi parau, mudah terkejut, gugup, air liur banyak keluar, ekor dilengkungkan ke bawah perut di antara kedua paha. Anjing kejangkejang, kemudian menjadi lumpuh, dan akhirnya mati.
Referensi :
1.https://ayosehat.kemkes.go.id/media-buku-saku-rabies--petunjuk-teknis-penatalaksanaan-kasus-gihitan-hewan-penular-rabies-di-indonesia
2.https://media.neliti.com/media/publications/36792-ID-penyakit-rabies-dan-penatalaksanaannya.pdf