KUSTA (LEPRA / MORBUS HANSEN)
dr.Nanda | 29 Januari 2026

Pengertian
Kusta (lepra) adalah penyakit infeksi kronis yang disebabkan oleh Mycobacterium leprae. Penyakit ini terutama menyerang kulit dan saraf tepi, serta dapat mengenai mukosa saluran napas atas dan mata. Bila tidak diobati secara dini, kusta dapat menyebabkan kerusakan saraf permanen, kecacatan, dan disabilitas.
Kusta bukan penyakit keturunan, kutukan, atau akibat kebersihan yang buruk, dan dapat disembuhkan dengan pengobatan yang tepat.
Epidemiologi Singkat
Indonesia masih termasuk negara dengan beban kusta cukup tinggi. Penularan berlangsung lambat dan sering tidak disadari karena masa inkubasi panjang, berkisar 2–5 tahun, bahkan dapat lebih lama.
Gejala Klinis
Gejala kusta sangat bervariasi tergantung respons imun penderita, namun tanda khas yang perlu diwaspadai meliputi:
1. Gejala Kulit
Bercak putih atau kemerahan dengan penurunan atau hilangnya rasa (mati rasa)
Kulit tampak kering, menebal, atau bersisik
Rambut rontok dan keringat berkurang pada area lesi
2. Gejala Saraf
Kesemutan atau baal
Kelemahan otot
Penebalan saraf tepi (n. ulnaris, n. peroneus, n. tibialis posterior)
Penurunan refleks
3. Gejala Lanjutan
Luka berulang tanpa nyeri
Kelainan bentuk tangan dan kaki (claw hand, foot drop)
Gangguan penglihatan akibat keterlibatan mata
📌 Mati rasa pada bercak kulit merupakan tanda paling khas kusta.
Patofisiologi
Mycobacterium leprae merupakan bakteri tahan asam yang memiliki afinitas tinggi terhadap sel Schwann pada saraf tepi dan makrofag kulit.
Proses patogenesis dipengaruhi oleh respons imun seluler host:
Respons imun kuat (Th1 dominan) → kusta tuberkuloid
Lesi sedikit
Kerusakan saraf lokal
Basil sedikit (paucibacillary)
Respons imun lemah (Th2 dominan) → kusta lepromatosa
Lesi luas dan simetris
Basil banyak (multibacillary)
Risiko kecacatan tinggi
Invasi bakteri ke saraf menyebabkan inflamasi, demielinisasi, dan kerusakan akson, yang berujung pada gangguan sensorik dan motorik. Reaksi kusta (tipe 1 dan tipe 2) dapat memperberat kerusakan saraf bila tidak ditangani.
Penularan
Terjadi melalui droplet saluran napas dari penderita yang belum diobati
Membutuhkan kontak erat dan lama
Tidak mudah menular
Pasien yang sudah mendapatkan MDT (Multi Drug Therapy) → tidak menular
Pencegahan
1. Pencegahan Primer
Edukasi masyarakat untuk mengenali gejala dini
Perbaikan sanitasi dan kepadatan hunian
Pemberian profilaksis rifampisin dosis tunggal (SDR) pada kontak serumah (sesuai program nasional)
2. Pencegahan Sekunder
Deteksi dini kasus baru
Pengobatan segera dengan MDT
Pemeriksaan kontak erat
3. Pencegahan Tersier
Pencegahan kecacatan melalui:
Perawatan diri
Fisioterapi
Monitoring fungsi saraf
Rehabilitasi medik dan sosial
📌 Deteksi dan pengobatan dini adalah kunci utama mencegah kecacatan akibat kusta.
Kesimpulan
Kusta adalah penyakit infeksi kronis yang masih ditemukan hingga saat ini, namun dapat disembuhkan sepenuhnya. Tantangan utama bukan pada pengobatannya, melainkan keterlambatan diagnosis dan stigma sosial. Edukasi, deteksi dini, dan pengobatan yang tepat akan memutus rantai penularan serta mencegah kecacatan.
DAFTAR PUSTAKA
World Health Organization. Guidelines for the diagnosis, treatment and prevention of leprosy. Geneva: WHO; 2018.
World Health Organization. Global leprosy update, 2022: towards interruption of transmission. Weekly Epidemiological Record. 2023;98(35):409–440.
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Pedoman Nasional Program Pengendalian Penyakit Kusta. Jakarta: Kemenkes RI; 2020.
Britton WJ, Lockwood DNJ. Leprosy. The Lancet. 2004;363(9416):1209–1219.
Scollard DM, Adams LB, Gillis TP, et al. The continuing challenges of leprosy. Clinical Microbiology Reviews. 2006;19(2):338–381.
Lastória JC, Abreu MAMM. Leprosy: review of the epidemiological, clinical, and etiopathogenic aspects. Anais Brasileiros de Dermatologia. 2014;89(2):205–218.