top of page

KONJUNGTIVITIS

dr.Nanda | 17 Januari 2026

KONJUNGTIVITIS

Pendahuluan
Konjungtivitis adalah peradangan pada konjungtiva, yaitu membran mukosa transparan yang melapisi permukaan dalam palpebra dan sklera anterior. Kondisi ini merupakan salah satu penyebab tersering mata merah di praktik klinik. Meskipun umumnya bersifat ringan dan self-limiting, konjungtivitis harus dibedakan dari penyebab mata merah lain yang berpotensi mengancam penglihatan.

Anatomi dan Fungsi Konjungtiva
Konjungtiva berperan sebagai:
Pelindung mekanik terhadap mikroorganisme
Pelumas permukaan okular melalui produksi mukus
Bagian dari sistem imun lokal mata melalui conjunctiva-associated lymphoid tissue (CALT)
Kekayaan vaskular dan jaringan imun ini menyebabkan konjungtiva sangat responsif terhadap rangsangan inflamasi.

Etiologi dan Klasifikasi
1. Konjungtivitis Infeksius
a. Konjungtivitis Bakteri
Penyebab tersering meliputi:
Staphylococcus aureus
Streptococcus pneumoniae
Haemophilus influenzae

Biasanya ditandai dengan sekret purulen atau mukopurulen dan kelopak mata lengket saat bangun tidur.
b. Konjungtivitis Virus
Paling sering disebabkan oleh adenovirus. Bersifat sangat menular dan sering berkaitan dengan infeksi saluran napas atas.

2. Konjungtivitis Non-Infeksius
a. Konjungtivitis Alergi
Dipicu oleh alergen seperti debu, serbuk sari, atau bulu hewan.
b. Konjungtivitis Iritatif/Toksik
Disebabkan oleh paparan bahan kimia, asap, polusi udara, atau penggunaan lensa kontak yang tidak adekuat.

Patofisiologi
Konjungtivitis terjadi akibat respon inflamasi konjungtiva terhadap rangsangan infeksius maupun non-infeksius. Proses ini melibatkan pembuluh darah, sel imun, dan mediator inflamasi.
1. Konjungtivitis Bakteri
Invasi bakteri ke epitel konjungtiva memicu:
Aktivasi respon imun innate
Rekrutmen neutrofil
Pelepasan sitokin proinflamasi
Akibatnya terjadi:
Vasodilatasi → hiperemia konjungtiva
Peningkatan permeabilitas kapiler → edema
Akumulasi neutrofil dan debris sel → sekret purulen


2. Konjungtivitis Virus
Virus (terutama adenovirus) menginfeksi dan bereplikasi di sel epitel konjungtiva sehingga menyebabkan:
Kerusakan sel epitel
Aktivasi respon imun seluler (limfosit T)
Pembentukan folikel limfoid
Secara klinis tampak sekret serosa, hiperemia difus, dan pada beberapa kasus pembesaran kelenjar preaurikular.

3. Konjungtivitis Alergi
Merupakan reaksi hipersensitivitas tipe I yang dimediasi IgE. Paparan alergen menyebabkan:
Degranulasi sel mast
Pelepasan histamin, leukotrien, dan prostaglandin
Efek mediator tersebut meliputi:
Vasodilatasi → mata merah
Stimulasi ujung saraf sensorik → gatal hebat
Peningkatan produksi mukus → sekret mukoid

4. Konjungtivitis Iritatif/Toksik
Paparan iritan menyebabkan:
Kerusakan langsung epitel konjungtiva
Pelepasan mediator inflamasi non-imunologis
Peningkatan refleks lakrimasi sebagai mekanisme protektif
Proses ini umumnya reversibel bila pajanan dihentikan.

Manifestasi Klinis
Gejala konjungtivitis meliputi:
Mata merah (hiperemia konjungtiva)
Sekret mata (purulen, mukoid, atau serosa)
Gatal atau rasa mengganjal
Lakrimasi
Edema palpebra ringan

⚠️ Nyeri hebat dan penurunan tajam penglihatan bukan gejala khas konjungtivitis.

Diagnosis
Diagnosis konjungtivitis umumnya bersifat klinis, berdasarkan:
Anamnesis (onset, unilateral/bilateral, jenis sekret)
Pemeriksaan fisik mata
Pemeriksaan penunjang seperti kultur sekret mata tidak dilakukan secara rutin, kecuali pada:
Kasus berat atau berulang
Tidak respons terhadap terapi
Neonatus atau pasien imunokompromais


Diagnosis Banding
Keratitis
Uveitis anterior
Glaukoma sudut tertutup akut
Blefaritis

Adanya nyeri hebat, fotofobia berat, atau penurunan visus harus menyingkirkan diagnosis konjungtivitis.

Penatalaksanaan
Konjungtivitis Bakteri
Antibiotik topikal sesuai indikasi
Edukasi kebersihan mata

Konjungtivitis Virus
Terapi suportif (kompres dingin, lubrikan)
Edukasi mengenai penularan

Konjungtivitis Alergi
Antihistamin topikal
Stabilizer sel mast
Menghindari alergen pencetus
❌ Antibiotik dan kortikosteroid topikal tidak dianjurkan tanpa indikasi yang jelas.


Prognosis dan Pencegahan
Sebagian besar konjungtivitis memiliki prognosis baik. Upaya pencegahan meliputi:
Cuci tangan secara teratur
Tidak berbagi handuk atau kosmetik mata
Kepatuhan terhadap terapi
Isolasi sementara pada kasus infeksius


Kesimpulan
Konjungtivitis merupakan peradangan konjungtiva dengan berbagai etiologi dan mekanisme patofisiologi. Pemahaman terhadap penyebab dan proses inflamasi sangat penting untuk menentukan terapi yang tepat, mencegah komplikasi, serta menghindari penggunaan obat yang tidak rasional.

📚 Daftar Pustaka
Azari AA, Barney NP. Conjunctivitis: A systematic review of diagnosis and treatment. JAMA. 2013;310(16):1721–1729.
American Academy of Ophthalmology. Preferred Practice Pattern: Conjunctivitis. AAO; 2023.
Kanski JJ, Bowling B. Clinical Ophthalmology: A Systematic Approach. 9th ed. Elsevier; 2020.
Shekhawat NS, et al. Differentiating bacterial from viral conjunctivitis. Ophthalmology. 2017;124(10):1528–1536.
Udeh BL, Schneider JE, Ohsfeldt RL. Cost effectiveness of antibiotics for acute conjunctivitis. Am J Med Sci. 2008;336(3):254–261.

  • Grey Facebook Icon
  • Grey Twitter Icon

Klinik Satriabudi Dharma Medika © 2023

Thanks for submitting!

bottom of page