top of page

KEPUTIHAN (FLUOR ALBUS)

dr. Nanda | 3 Januari 2026

KEPUTIHAN (FLUOR ALBUS)

Pengertian Keputihan
Keputihan atau fluor albus (leukorea) adalah keluarnya cairan dari vagina selain darah, yang berasal dari sekresi normal vagina, serviks, dan kelenjar endometrium, atau akibat proses patologis.
Keputihan merupakan kondisi yang umum terjadi pada perempuan dan sebagian besar bersifat fisiologis. Namun, keputihan dapat menjadi patologis bila disertai perubahan warna, bau, konsistensi, jumlah, atau keluhan penyerta seperti gatal, perih, nyeri saat berkemih, maupun nyeri perut bawah.

Fungsi Keputihan Fisiologis
Keputihan normal memiliki peran penting dalam menjaga kesehatan organ reproduksi wanita, antara lain:
Menjaga kelembapan vagina sehingga mukosa vagina tidak mudah iritasi atau kering.
Membersihkan vagina secara alami dengan membawa keluar sel epitel mati dan mikroorganisme.
Menjaga keseimbangan flora normal vagina, terutama dominasi Lactobacillus.
Mempertahankan pH vagina yang asam (±3,8–4,5) sehingga menghambat pertumbuhan patogen.
Perlindungan terhadap infeksi sebagai mekanisme pertahanan non-spesifik.
Keputihan fisiologis dapat meningkat pada kondisi tertentu seperti menjelang ovulasi, menjelang menstruasi, kehamilan, stres, kelelahan, dan penggunaan kontrasepsi hormonal.

Klasifikasi Keputihan
1. Keputihan Fisiologis (Normal)
Ciri-ciri keputihan normal meliputi:
Warna bening atau putih susu
Tidak berbau atau berbau ringan
Tidak disertai gatal, perih, atau nyeri
Tidak menggumpal
Tidak berlebihan dan tidak mengganggu aktivitas
2. Keputihan Patologis (Tidak Normal)
Ciri-ciri keputihan patologis meliputi:
Warna kuning, hijau, abu-abu, kecoklatan
Bau amis atau busuk
Disertai gatal, perih, nyeri BAK, atau nyeri perut bawah
Tekstur kental menggumpal atau berbusa
Jumlah banyak, menetap, dan semakin berat

Patofisiologi Keputihan
A. Patofisiologi Keputihan Fisiologis
Keputihan fisiologis terjadi akibat pengaruh hormon estrogen yang meningkatkan sekresi kelenjar serviks dan vagina. Sel epitel vagina yang kaya glikogen akan diuraikan oleh Lactobacillus menjadi asam laktat sehingga mempertahankan pH vagina tetap asam. Kondisi ini menciptakan lingkungan yang tidak menguntungkan bagi pertumbuhan mikroorganisme patogen.
B. Patofisiologi Keputihan Patologis
Keputihan patologis terjadi akibat ketidakseimbangan flora vagina, peningkatan pH vagina, atau invasi mikroorganisme patogen yang menyebabkan inflamasi mukosa vagina dan/atau serviks.
1. Kandidiasis Vulvovaginal
Disebabkan oleh Candida albicans. Faktor risiko meliputi kehamilan, diabetes melitus, penggunaan antibiotik jangka panjang, dan imunosupresi. Pertumbuhan jamur berlebihan menyebabkan inflamasi mukosa vagina sehingga timbul keputihan putih kental menggumpal disertai gatal hebat.
2. Bacterial Vaginosis
Terjadi akibat penurunan Lactobacillus dan dominasi bakteri anaerob seperti Gardnerella vaginalis. Kondisi ini menyebabkan peningkatan pH vagina (>4,5) dan menghasilkan keputihan berwarna abu-abu dengan bau amis khas.
3. Trikomoniasis
Disebabkan oleh Trichomonas vaginalis yang ditularkan melalui hubungan seksual. Parasit ini merusak epitel vagina dan memicu inflamasi sehingga muncul keputihan kehijauan, berbusa, berbau menyengat, dan dapat disertai nyeri saat berkemih.
4. Servisitis dan Infeksi Menular Seksual
Infeksi oleh Chlamydia trachomatis atau Neisseria gonorrhoeae menyebabkan peradangan serviks yang meningkatkan produksi sekret patologis. Kondisi ini dapat asimtomatik atau disertai nyeri panggul.

Pencegahan Keputihan Patologis
Pencegahan keputihan patologis bertujuan untuk menjaga keseimbangan flora normal vagina dan mencegah infeksi. Upaya pencegahan meliputi:
Menjaga kebersihan area genital dengan benar menggunakan air bersih atau sabun lembut dengan pH seimbang.
Menghindari douching vagina karena dapat merusak flora normal dan meningkatkan risiko infeksi.
Menggunakan pakaian dalam berbahan katun, tidak ketat, dan mengganti secara rutin untuk mencegah kelembapan berlebih.
Menjaga perilaku seksual yang aman, termasuk menghindari berganti-ganti pasangan dan menggunakan kondom bila berisiko.
Mengelola faktor risiko, seperti mengontrol kadar gula darah pada penderita diabetes dan menghindari penggunaan antibiotik tanpa indikasi.
Waspada pada masa kehamilan, karena perubahan hormonal meningkatkan risiko keputihan patologis; hindari pengobatan sendiri.
Deteksi dini dan edukasi, dengan mengenali perubahan keputihan dan segera memeriksakan diri bila muncul tanda tidak normal.

Kesimpulan
Keputihan merupakan proses fisiologis yang berperan penting dalam menjaga kesehatan vagina. Namun, perubahan karakteristik keputihan dapat menjadi tanda adanya gangguan atau infeksi. Pemahaman mengenai fungsi, patofisiologi, dan pencegahan keputihan sangat penting untuk mencegah komplikasi dan menjaga kesehatan reproduksi wanita.

Daftar Pustaka
Berek JS. Berek & Novak’s Gynecology. 16th ed. Lippincott Williams & Wilkins.
Prawirohardjo S. Ilmu Kandungan. Edisi terbaru. Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo.
World Health Organization (WHO). Guidelines for the Management of Vaginal Discharge.
Centers for Disease Control and Prevention (CDC). Sexually Transmitted Infections Treatment Guidelines.
American College of Obstetricians and Gynecologists (ACOG). Vaginitis in Nonpregnant and Pregnant Patients.

  • Grey Facebook Icon
  • Grey Twitter Icon

Klinik Satriabudi Dharma Medika © 2023

Thanks for submitting!

bottom of page