Kenapa Masyarakat Indonesia Masih Sering Sakit Gigi?
drg. Refina | 25 November 2025

Kesehatan gigi dan mulut berarti kondisi mulut, gigi, dan jaringan di sekitarnya berada dalam keadaan baik sehingga seseorang bisa makan, bicara, bernapas, dan bersosialisasi tanpa rasa sakit. Menurut Permenkes RI (2015), kesehatan gigi dan mulut adalah kondisi jaringan keras dan lunak di dalam mulut yang sehat sehingga seseorang bisa makan, berbicara, dan berinteraksi tanpa rasa sakit, gangguan bentuk, atau masalah akibat penyakit dan kehilangan gigi. Kondisi ini penting karena kesehatan tubuh juga dipengaruhi oleh kesehatan gigi dan mulut.
Kebersihan gigi dan mulut berarti kondisi mulut bebas dari kotoran seperti sisa makanan, plak, dan karang gigi. Jika kebersihan mulut tidak dijaga, plak akan terus menumpuk di permukaan gigi. Karies gigi adalah kerusakan pada jaringan gigi yang dimulai dari permukaan gigi dan bisa menyebar ke lapisan yang lebih dalam, dari email menuju dentin hingga pulpa. Karies dapat terjadi pada siapa saja dan pada satu atau beberapa bagian gigi (Tarigan, 2013).
Masalah gigi dan mulut berdampak besar, baik bagi individu maupun sistem kesehatan. Survei Kesehatan Indonesia 2023 menunjukkan 56,9% penduduk usia ≥3 tahun mengalami gangguan gigi, sementara Riskesdas 2018 mencatat 88,8% masyarakat punya karies, dan 45,3% mengalami gigi berlubang. Kondisi ini menurunkan produktivitas karena banyak orang absen kerja atau sekolah akibat sakit gigi. Biaya perawatannya juga membebani anggaran kesehatan. Secara global, WHO mencatat 3,5 miliar orang mengalami masalah gigi, dan Indonesia termasuk yang tertinggi di Asia Tenggara.
Penyebab utama masalah gigi berasal dari kebiasaan individu dan faktor sosial-ekonomi. Karies terjadi karena bakteri menghasilkan asam yang merusak gigi, terutama jika kebiasaan menyikat gigi buruk. Hanya 1,4% masyarakat yang menyikat gigi pada waktu yang benar. Konsumsi makanan dan minuman manis juga memperburuk risiko, khususnya pada anak sekolah. Selain itu, akses layanan kesehatan yang tidak merata dan kurangnya pengetahuan orang tua membuat pemanfaatan dokter gigi rendah.
Untuk mencegahnya, upaya dilakukan melalui pendidikan kesehatan, perbaikan kebiasaan, dan pemanfaatan teknologi. Penyuluhan di sekolah terbukti meningkatkan kebiasaan menyikat gigi dua kali sehari. Penggunaan fluoride, baik dari pasta gigi maupun perawatan profesional, membantu memperkuat gigi dan mencegah karies. Pencegahan dilakukan dengan tiga cara: mengurangi konsumsi gula, meningkatkan kekuatan gigi, dan menghilangkan plak. Teknologi seperti teledentistry juga membantu masyarakat di daerah terpencil mendapatkan informasi dan konsultasi kesehatan gigi dari jarak jauh.
Faktor yang menyebabkan penyakit gigi masih tinggi :
1. Perilaku dan Pengetahuan Kesehatan Gigi
Banyak orang, terutama di daerah terpencil, masih kurang paham cara merawat gigi. Hanya sekitar 6–7% yang menyikat gigi dua kali sehari dengan teknik benar.
2. Konsumsi Gula
Jajanan dan minuman manis membuat anak mengonsumsi gula berlebih, sering kali lebih dari 50 gram/hari, padahal batas aman hanya 25 gram. Ini memicu gigi berlubang. Program kantin sehat dengan pilihan makanan lebih baik dapat menurunkan karies hingga 20%.
3. Akses Layanan Kesehatan
Hanya 11% masyarakat yang pernah memeriksakan gigi. Penyebabnya: dokter gigi kurang, biaya dan jarak yang jauh, serta program pencegahan di puskesmas yang jarang. Teledentistry mulai membantu, memungkinkan konsultasi jarak jauh dan mempercepat rujukan kasus serius.
4. Faktor Sosial Ekonomi
Pendidikan dan pendapatan memengaruhi kesehatan gigi. Menurut Notoatmodjo (2010), pendidikan berpengaruh besar terhadap pengetahuan seseorang. Orang dengan pendidikan lebih tinggi biasanya lebih mudah memahami informasi baru, sehingga pengetahuannya juga lebih banyak. Sebaliknya, pendidikan yang rendah dapat membuat seseorang sulit menerima informasi atau kebiasaan baru. Keluarga berpendidikan dan berpenghasilan baik lebih rutin merawat gigi, sedangkan kelompok berpenghasilan rendah cenderung menunda pemeriksaan hingga sakit.
Sumber :
1. Thania, L., Fatimah, N., & Marniati, M. (2025). Dinamika masalah kesehatan gigi dan mulut di Indonesia. Antigen : Jurnal Kesehatan Masyarakat dan Ilmu Gizi, 3(3), 156–166.
2. Kencana, I. G. S., & Ratih, I. A. D. K. (2023). Aplikasi asuhan kesehatan gigi dan mulut pada keluarga Bapak I WY. S dengan anak menderita karies gigi di wilayah kerja Puskesmas Denpasar Selatan tahun 2023. Jurnal Kesehatan Gigi (Dental Health Journal), 10(2), 131–142