KANKER PAYUDARA
dr.Nanda | 11 Feb 2026

1. Pendahuluan
Kanker payudara adalah keganasan yang berasal dari epitel duktus atau lobulus payudara yang mengalami proliferasi tidak terkendali dan berpotensi menginvasi jaringan sekitar serta bermetastasis ke organ jauh. Saat ini kanker payudara merupakan kanker dengan insidensi tertinggi pada wanita di dunia dan menjadi salah satu penyebab utama kematian akibat kanker.
Menurut GLOBOCAN 2020, terdapat sekitar 2,3 juta kasus baru kanker payudara secara global dengan lebih dari 685.000 kematian setiap tahun. Di Indonesia, kanker payudara menempati urutan pertama kejadian kanker pada perempuan.
2. Epidemiologi
Insidensi kanker payudara meningkat seiring bertambahnya usia, terutama setelah usia 40 tahun. Negara dengan indeks pembangunan tinggi memiliki angka insidensi lebih tinggi, namun angka mortalitas relatif lebih tinggi di negara berkembang akibat keterlambatan diagnosis dan keterbatasan akses terapi.
Faktor sosial, gaya hidup, serta kurangnya skrining rutin berkontribusi terhadap tingginya angka kasus stadium lanjut saat pertama kali didiagnosis.
3. Faktor Risiko
3.1 Faktor Non-Modifiable
Jenis kelamin perempuan
Usia lanjut
Riwayat keluarga kanker payudara
Mutasi gen BRCA1 dan BRCA2
Menarche dini (<12 tahun)
Menopause terlambat (>55 tahun)
Mutasi BRCA1/2 dapat meningkatkan risiko kanker payudara hingga 60–80% sepanjang hidup.
3.2 Faktor Modifiable
Obesitas
Konsumsi alkohol
Kurang aktivitas fisik
Tidak menyusui
Terapi sulih hormon jangka panjang
Paparan estrogen yang berkepanjangan berperan penting dalam patogenesis kanker payudara.
4. Patofisiologi dan Mekanisme Molekuler
Kanker payudara terjadi akibat akumulasi perubahan genetik dan epigenetik yang menyebabkan disregulasi siklus sel, peningkatan proliferasi, dan penurunan apoptosis.
4.1 Jalur Molekuler Utama
Mutasi BRCA1/BRCA2
Mengganggu mekanisme perbaikan DNA melalui homologous recombination.
Overekspresi HER2 (ERBB2)
Menyebabkan aktivasi jalur proliferasi seperti PI3K/AKT dan MAPK.
Reseptor Estrogen (ER) dan Progesteron (PR)
Aktivasi reseptor hormon memicu proliferasi sel tumor.
Mutasi p53
Menghambat apoptosis dan meningkatkan instabilitas genom.
Sebagian besar kanker payudara adalah adenokarsinoma, dengan tipe tersering adalah invasive ductal carcinoma.
5. Klasifikasi
5.1 Berdasarkan Histopatologi
Ductal carcinoma in situ (DCIS)
Invasive ductal carcinoma (IDC)
Invasive lobular carcinoma
5.2 Berdasarkan Subtipe Molekuler
Luminal A (ER+, PR+, HER2–)
Luminal B
HER2-enriched
Triple Negative Breast Cancer (TNBC)
Subtipe molekuler sangat menentukan pilihan terapi dan prognosis.
6. Manifestasi Klinis
Gejala yang sering ditemukan antara lain:
Benjolan keras tidak nyeri
Perubahan bentuk payudara
Retraksi puting
Kulit seperti kulit jeruk (peau d’orange)
Discharge berdarah
Pembesaran kelenjar getah bening aksila
Sebagian kasus stadium awal bersifat asimptomatik dan terdeteksi melalui skrining.
7. Diagnosis
7.1 Pemeriksaan Klinis
Anamnesis faktor risiko dan pemeriksaan fisik menyeluruh payudara dan aksila.
7.2 Pemeriksaan Penunjang
Mammografi (gold standard skrining)
USG payudara
MRI pada risiko tinggi
7.3 Konfirmasi Histopatologi
Biopsi jarum inti (core biopsy) dengan pemeriksaan imunohistokimia untuk ER, PR, dan HER2.
8. Penentuan Stadium
Menggunakan sistem TNM (Tumor, Node, Metastasis).
Stadium I–III: penyakit lokal dan regional
Stadium IV: metastasis jauh (paru, hati, tulang, otak)
Stadium sangat menentukan prognosis dan strategi terapi.
9. Penatalaksanaan
Pendekatan terapi bersifat multimodal.
9.1 Operasi
Breast conserving surgery
Mastektomi
Sentinel lymph node biopsy
9.2 Kemoterapi
Regimen berbasis anthracycline dan taxane.
9.3 Radioterapi
Untuk menurunkan risiko kekambuhan lokal.
9.4 Terapi Hormonal
Tamoxifen
Aromatase inhibitor
Digunakan pada kanker ER/PR positif.
9.5 Terapi Target
Trastuzumab (HER2+)
Pertuzumab
CDK4/6 inhibitors
PARP inhibitor (pada mutasi BRCA)
Terapi target secara signifikan meningkatkan survival pada subtipe tertentu.
10. Pencegahan dan Skrining
10.1 Pencegahan Primer
Menjaga berat badan ideal
Aktivitas fisik rutin
Menyusui
Mengurangi konsumsi alkohol
10.2 Deteksi Dini
SADARI setiap bulan
SADANIS oleh tenaga kesehatan
Mammografi mulai usia 40 tahun atau lebih awal pada risiko tinggi
Skrining mammografi terbukti menurunkan mortalitas kanker payudara sekitar 20–30%.
11. Prognosis
Prognosis dipengaruhi oleh:
Stadium saat diagnosis
Subtipe molekuler
Respons terhadap terapi
Survival 5 tahun:
Stadium I: >90%
Stadium IV: sekitar 30%
Deteksi dini memberikan angka harapan hidup yang jauh lebih baik.
Daftar Pustaka
Sung H, Ferlay J, Siegel RL, et al. Global cancer statistics 2020. CA Cancer J Clin. 2021;71(3):209–249.
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Profil Kesehatan Indonesia. Jakarta: Kemenkes RI.
Kuchenbaecker KB, et al. Risks of breast cancer associated with BRCA1 and BRCA2 mutations. JAMA. 2017;317(23):2402–2416.
Kumar V, Abbas AK, Aster JC. Robbins & Cotran Pathologic Basis of Disease. 10th ed. Elsevier; 2021.
Perou CM, et al. Molecular portraits of human breast tumours. Nature. 2000;406:747–752.
NCCN Clinical Practice Guidelines in Oncology: Breast Cancer. Version terbaru.
Independent UK Panel on Breast Cancer Screening. The benefits and harms of breast cancer screening. Lancet. 2012;380:1778–1786.