Infeksi Saluran Kemih (ISK): Pengertian, Gejala, Faktor Risiko, dan Cara Pencegahan
dr.Nanda Sri Wahyuni | 8 Agustus 2025

Apa Itu Infeksi Saluran Kemih (ISK)?
Infeksi Saluran Kemih (ISK) adalah kondisi di mana terjadi infeksi pada salah satu bagian dari saluran kemih, mulai dari uretra, kandung kemih, hingga ginjal. Infeksi ini biasanya disebabkan oleh bakteri, terutama Escherichia coli yang berasal dari usus. ISK dapat menyerang siapa saja, tetapi wanita memiliki risiko lebih tinggi karena anatomi uretra yang lebih pendek dan letaknya yang dekat dengan anus.
Infeksi saluran kemih (ISK) merupakan infeksi paling sering terjadi pada perempuan, dengan angka kejadian cenderung meningkat dengan bertambahnya usia. Penelitian terhadap laki-laki di Norwegia berusia 21 - 50 tahun menunjukkan perkiraan insiden 0,0006 - 0,0008 infeksi per orang-tahun, dibandingkan dengan sekitar 0,5-0,7 per orang-tahun pada perempuan dengan usia yang sama di Amerika Serikat.
๐ Temuan Penelitian ISK di Indonesia
-RSUP Dr. Sardjito (2019โ2021)
Penelitian ini menemukan bahwa prevalensi ISK lebih tinggi pada perempuan (62,3%) dibandingkan laki-laki (37,7%). Kelompok usia 56โ65 tahun (34,4%) merupakan kelompok yang paling sering mengalami ISK.
-RS Guido Valadares (2021โ2022)
Studi ini menunjukkan bahwa infeksi saluran kemih lebih umum dialami oleh wanita (62,35%) dibandingkan pria. Rentang usia >30 tahun juga menunjukkan prevalensi tertinggi.
-RSUD Prof. Dr. W. Z. Johannes Kupang (2021)
Di antara penderita diabetes melitus, 67,7% di antaranya adalah perempuan.
๐ฌ Mengapa Wanita Lebih Rentan Terkena ISK?
Wanita memiliki risiko lebih tinggi mengalami ISK dibandingkan pria karena beberapa faktor anatomi dan fisiologis:
-Uretra lebih pendek: Saluran kemih wanita lebih pendek, memudahkan bakteri mencapai kandung kemih.
-Letak uretra dekat anus: Mempermudah perpindahan bakteri dari area sekitar anus ke saluran kemih.
-Perubahan hormonal: Seperti saat menstruasi, kehamilan, atau menopause, dapat memengaruhi --keseimbangan flora bakteri di saluran kemih.
-Aktivitas seksual: Dapat memindahkan bakteri ke saluran kemih, terutama jika tidak disertai kebiasaan bersih setelah berhubungan.
-Penggunaan produk kewanitaan yang tidak tepat: Seperti sabun beraroma kuat atau douching, dapat mengiritasi area intim dan mengganggu keseimbangan pH alami.
Gejala Infeksi Saluran Kemih
Gejala ISK bervariasi tergantung lokasi infeksi, namun yang paling umum meliputi:
Rasa perih atau nyeri saat buang air kecil
-Anyang-anyangan (sering ingin buang air kecil dengan jumlah sedikit)
-Urine keruh, berbau tidak sedap, atau berdarah
-Nyeri pada bagian perut bawah
-Demam, terutama jika infeksi sudah mencapai ginjal
Faktor Risiko ISK
Beberapa faktor yang meningkatkan risiko seseorang mengalami ISK antara lain:
-Jenis kelamin wanita: Uretra yang pendek (3โ4 cm) dan posisi dekat anus memudahkan bakteri masuk
-Aktivitas seksual: Frekuensi hubungan seksual dan penggunaan kontrasepsi tertentu (misalnya diafragma dan spermisida)
-Kebiasaan buruk: Menahan buang air kecil, membersihkan area genital dari belakang ke depan
-Kehamilan dan menopause: Perubahan hormon yang mempengaruhi lingkungan saluran kemih
-Penyakit penyerta: Diabetes, batu saluran kemih, gangguan sistem imun
Mitos dan Fakta Seputar ISK
*Mitos: ISK hanya dialami wanita.
Fakta: Pria juga bisa terkena ISK, meski risikonya lebih rendah.
*Mitos: Sering buang air kecil pasti tanda ISK.
Fakta: Bisa juga disebabkan oleh kondisi lain seperti diabetes atau konsumsi kafein berlebih.
*Mitos: Menahan pipis itu aman.
Fakta: Menahan pipis justru meningkatkan risiko ISK karena bakteri bisa berkembang lebih mudah.
Cara Pencegahan ISK
-Minum air putih minimal 2 liter per hari untuk membantu membersihkan saluran kemih
-Bersihkan area genital dengan benar, dari depan ke belakang
-Jangan menahan buang air kecil terlalu lama
-Buang air kecil setelah berhubungan seksual untuk mengeluarkan bakteri yang mungkin masuk
-Hindari penggunaan kontrasepsi yang meningkatkan risiko ISK jika Anda rentan
Kapan Harus ke Dokter?
Jika Anda mengalami gejala ISK, seperti nyeri saat buang air kecil, urine keruh, atau demam, sebaiknya segera konsultasikan dengan dokter untuk mendapatkan pemeriksaan dan pengobatan yang tepat. Penanganan dini dapat mencegah komplikasi serius, seperti infeksi ginjal. Salam sehat!
Referensi:
Update in Laboratory Diagnosis of Urinary Tract Infection https://scholarhub.ui.ac.id/cgi/viewcontent.cgi?article=1093&context=jpdi
Hooton TM, et al. Effect of Increased Daily Water Intake on Recurrent UTI in Women. JAMA Intern Med. 2018.
Perret A, et al. Prevention of Recurrent UTI in Women. Medicina. 2023.
Zhao Y, et al. Recurrent Uncomplicated UTIs in Women. PMC. 2020.
Araรบjo M, et al. Risk Factors for UTI in Women. RSD Journal. 2021.