top of page

Hipotensi Ortostatik

dr.Nanda | 6 Maret 2026

Hipotensi Ortostatik

Pendahuluan
Hipotensi Ortostatik adalah kondisi ketika terjadi penurunan tekanan darah secara signifikan saat seseorang berubah posisi dari berbaring atau duduk menjadi berdiri. Kondisi ini dapat menyebabkan gejala seperti pusing, pandangan kabur, hingga hampir pingsan. Hipotensi ortostatik cukup sering ditemukan pada lansia, namun juga dapat terjadi pada orang dewasa muda, terutama pada kondisi dehidrasi, penggunaan obat tertentu, atau gangguan sistem saraf otonom.
Secara klinis, hipotensi ortostatik didefinisikan sebagai penurunan tekanan darah sistolik ≥20 mmHg atau diastolik ≥10 mmHg dalam waktu 3 menit setelah berdiri dari posisi duduk atau berbaring.

Epidemiologi
Hipotensi ortostatik cukup sering terjadi di masyarakat. Prevalensinya meningkat seiring bertambahnya usia. Pada populasi lansia, kondisi ini dapat ditemukan pada sekitar 20% individu. Faktor risiko lain meliputi penyakit kronis seperti diabetes, penyakit neurologis, serta penggunaan obat antihipertensi.

Patofisiologi
Pada kondisi normal, saat seseorang berdiri, gravitasi menyebabkan sekitar 500–1000 mL darah berpindah ke pembuluh darah di tungkai dan abdomen. Hal ini dapat menurunkan aliran darah kembali ke jantung. Tubuh kemudian mengaktifkan sistem saraf otonom melalui refleks baroreseptor untuk mempertahankan tekanan darah dengan cara:
meningkatkan denyut jantung
meningkatkan kontraksi pembuluh darah perifer

Pada hipotensi ortostatik, mekanisme kompensasi tersebut tidak berjalan optimal sehingga tekanan darah turun dan aliran darah ke otak berkurang, menyebabkan gejala seperti pusing atau presinkop.

Etiologi
Penyebab hipotensi ortostatik dapat dibagi menjadi beberapa kategori:
1. Dehidrasi dan hipovolemia
Kehilangan cairan akibat muntah, diare, perdarahan, atau kurang asupan cairan dapat menurunkan volume darah.
2. Gangguan sistem saraf otonom
Kerusakan saraf otonom dapat terjadi pada beberapa penyakit seperti:
Diabetes mellitus
Penyakit Parkinson
Multiple System Atrophy


3. Efek samping obat
Beberapa obat dapat menyebabkan hipotensi ortostatik, antara lain:
obat antihipertensi
diuretik
antidepresan
vasodilator

4. Kondisi medis lain
anemia
insufisiensi adrenal
Penyakit jantung
kehamilan

Manifestasi Klinis
Gejala hipotensi ortostatik biasanya muncul saat seseorang berdiri dan dapat membaik ketika kembali duduk atau berbaring.
Gejala yang sering muncul meliputi:
pusing atau kepala terasa ringan
pandangan kabur
lemas
mual
rasa hampir pingsan (presinkop)
sinkop pada kasus berat

Pada beberapa kasus, penderita juga dapat mengalami kelelahan, kesulitan konsentrasi, atau rasa tidak stabil saat berdiri.

Diagnosis
Diagnosis hipotensi ortostatik ditegakkan melalui anamnesis, pemeriksaan fisik, dan pengukuran tekanan darah pada beberapa posisi.
Langkah pemeriksaan meliputi:
Mengukur tekanan darah saat pasien berbaring selama 5 menit.
Mengukur kembali tekanan darah setelah pasien berdiri selama 1 dan 3 menit.

Diagnosis ditegakkan bila terdapat:
penurunan tekanan darah sistolik ≥20 mmHg
atau penurunan diastolik ≥10 mmHg setelah berdiri.

Pemeriksaan tambahan dapat dilakukan untuk mencari penyebab, seperti:
pemeriksaan darah lengkap
kadar gula darah
fungsi ginjal
elektrokardiografi (EKG)


Penatalaksanaan
1. Terapi non-farmakologis
Pendekatan awal pada hipotensi ortostatik biasanya berupa perubahan gaya hidup, antara lain:
meningkatkan asupan cairan
menambah asupan garam (jika tidak ada kontraindikasi)
bangun secara perlahan dari posisi duduk atau berbaring
menghindari berdiri terlalu lama
menggunakan stocking kompresi
olahraga ringan secara teratur

2. Terapi farmakologis
Pada kasus yang tidak membaik dengan terapi non-farmakologis, dapat diberikan obat seperti:
Midodrine
Fludrocortisone

Obat-obatan ini bekerja dengan meningkatkan tonus pembuluh darah atau meningkatkan volume cairan tubuh.

Komplikasi
Jika tidak ditangani dengan baik, hipotensi ortostatik dapat menyebabkan beberapa komplikasi, antara lain:
sinkop berulang
cedera akibat jatuh
penurunan kualitas hidup
gangguan aktivitas sehari-hari

Pada lansia, risiko jatuh akibat hipotensi ortostatik menjadi perhatian penting karena dapat menyebabkan fraktur.

Pencegahan
Pencegahan hipotensi ortostatik dapat dilakukan dengan cara:
menjaga hidrasi tubuh
makan secara teratur
menghindari perubahan posisi tubuh secara mendadak
membatasi konsumsi alkohol
melakukan aktivitas fisik secara teratur

Selain itu, penting untuk mengevaluasi obat-obatan yang dikonsumsi yang mungkin berkontribusi terhadap penurunan tekanan darah.

Kesimpulan
Hipotensi ortostatik merupakan kondisi yang ditandai dengan penurunan tekanan darah saat perubahan posisi tubuh dari duduk atau berbaring menjadi berdiri. Kondisi ini dapat menyebabkan gejala seperti pusing, pandangan kabur, hingga hampir pingsan. Diagnosis ditegakkan melalui pengukuran tekanan darah dalam berbagai posisi. Penatalaksanaan meliputi modifikasi gaya hidup dan, pada kasus tertentu, terapi farmakologis. Deteksi dan penanganan yang tepat penting untuk mencegah komplikasi seperti sinkop dan cedera akibat jatuh.

Daftar Pustaka
Freeman R, Wieling W, Axelrod FB, et al. Consensus statement on the definition of orthostatic hypotension. Clinical Autonomic Research. 2011.
Gibbons CH, Freeman R. Clinical spectrum of orthostatic hypotension. Journal of Neurology. 2015.
Jameson JL, Fauci AS, Kasper DL, et al. Harrison's Principles of Internal Medicine. 21st ed. New York: McGraw-Hill; 2022.
Hall JE. Guyton and Hall Textbook of Medical Physiology. 14th ed. Philadelphia: Elsevier; 2021.
Fedorowski A. Orthostatic hypotension: epidemiology, diagnosis, and treatment. Journal of Internal Medicine. 2019.

  • Grey Facebook Icon
  • Grey Twitter Icon

Klinik Satriabudi Dharma Medika © 2023

Thanks for submitting!

bottom of page