Dyspnoea (Dispnea): Kenali Gejala & Penyebabnya
dr. Nanda | 22 Januari 2026

1. Pengertian
Dyspnea adalah sensasi subjektif ketidaknyamanan saat bernapas, yang dirasakan sebagai napas terasa berat, pendek, atau tidak cukup. Dyspnea merupakan gejala, bukan diagnosis, dan dapat muncul pada berbagai kondisi medis yang melibatkan sistem respirasi, kardiovaskular, hematologi, neuromuskular, maupun psikogenik.
Sensasi dyspnea dapat bervariasi antar individu dan tidak selalu sebanding dengan derajat gangguan fisiologis yang ditemukan secara objektif.
2. Gejala Dyspnea
2.1 Gejala Subjektif
Napas terasa pendek atau tidak cukup
Sensasi “air hunger” (lapar udara)
Napas terasa berat atau melelahkan
Dada terasa tertekan atau tidak nyaman
Cepat lelah saat aktivitas ringan
2.2 Tanda Objektif
Takipnea
Penggunaan otot bantu pernapasan
Cuping hidung kembang kempis
Kesulitan berbicara kalimat panjang
Posisi tripod
Sianosis (pada kasus berat)
3. Klasifikasi Dyspnea
3.1 Berdasarkan Onset
Akut: asma akut, emboli paru, edema paru akut, pneumotoraks
Kronik: PPOK, gagal jantung kronik, penyakit paru interstisial, anemia
3.2 Berdasarkan Hubungan dengan Posisi & Aktivitas
Dyspnea saat aktivitas
Dyspnea saat istirahat
Orthopnea
Paroxysmal Nocturnal Dyspnea (PND)
4. Etiologi Dyspnea
4.1 Sistem Respirasi
Asma
PPOK
Pneumonia
Emboli paru
Efusi pleura
4.2 Sistem Kardiovaskular
Gagal jantung
Penyakit jantung iskemik
Aritmia
4.3 Sistem Hematologi & Metabolik
Anemia
Asidosis metabolik
4.4 Neuromuskular & Psikogenik
Penyakit neuromuskular
Gangguan kecemasan / panic attack
5. Patofisiologi Dyspnea
Dyspnea timbul akibat ketidakseimbangan antara kebutuhan ventilasi dan kemampuan sistem pernapasan untuk memenuhinya, dengan keterlibatan sistem respirasi, saraf pusat, dan perifer.
Mekanisme utama meliputi:
5.1 Peningkatan Kerja Pernapasan
Terjadi pada:
Obstruksi jalan napas (asma, PPOK)
Penurunan compliance paru (edema paru, pneumonia)
Kondisi ini meningkatkan beban kerja otot pernapasan sehingga menimbulkan sensasi sesak.
5.2 Gangguan Pertukaran Gas
Hipoksemia dan/atau hiperkapnia akan menstimulasi kemoreseptor perifer dan sentral, meningkatkan drive pernapasan dan memicu dyspnea.
5.3 Aktivasi Reseptor Paru
Reseptor J (juxtacapillary) teraktivasi pada edema interstisial paru, menyebabkan napas cepat dan dangkal disertai rasa tidak nyaman.
5.4 Ketidaksesuaian Neuromuskular
Terjadi ketika perintah ventilasi dari pusat pernapasan tidak diimbangi oleh respons mekanik paru dan dinding dada, menimbulkan sensasi air hunger.
5.5 Faktor Sentral & Psikogenik
Korteks serebri dan sistem limbik berperan dalam persepsi dyspnea, menjelaskan mengapa kecemasan dapat memperberat sensasi sesak meskipun fungsi paru relatif normal.
6. Pencegahan Dyspnea
6.1 Pencegahan Primer
Menghindari rokok dan polusi udara
Aktivitas fisik teratur sesuai kemampuan
Nutrisi seimbang
Vaksinasi (influenza dan pneumokokus pada kelompok risiko)
6.2 Pencegahan Sekunder
Kontrol rutin penyakit paru dan jantung
Kepatuhan terhadap terapi
Penggunaan inhaler dengan teknik yang benar
Deteksi dan penatalaksanaan anemia
6.3 Pencegahan Tersier
Rehabilitasi paru
Latihan pernapasan
Edukasi pengenalan tanda perburukan dini
7. Tanda Bahaya Dyspnea
Pasien dengan dyspnea harus segera dirujuk bila disertai:
Penurunan kesadaran
Sianosis
Nyeri dada
Hipotensi
Distres napas berat
8. Kesimpulan
Dyspnea merupakan gejala kompleks yang melibatkan interaksi antara sistem respirasi, kardiovaskular, saraf, dan psikologis. Pendekatan klinis harus berfokus pada identifikasi dan tata laksana penyebab dasar, bukan hanya meredakan sensasi sesak.
Daftar Pustaka
Parshall MB, et al. An Official American Thoracic Society Statement: Update on the Mechanisms, Assessment, and Management of Dyspnea. Am J Respir Crit Care Med. 2012.
Manning HL, Schwartzstein RM. Pathophysiology of Dyspnea. N Engl J Med. 1995.
Nishino T. Dyspnoea: underlying mechanisms and treatment. Br J Anaesth. 2011.
West JB. Respiratory Physiology: The Essentials. 10th ed. Wolters Kluwer; 2016.
Guyton AC, Hall JE. Textbook of Medical Physiology. 14th ed. Elsevier; 2021.