DERMATITIS SEBOROIK
dr.Nanda | 20 Feb 2026

Penyakit Kulit Kronis yang Sering Disangka Ketombe Biasa
Pendahuluan
Dermatitis seboroik adalah penyakit inflamasi kronis pada kulit yang terutama mengenai area dengan kelenjar sebasea aktif, seperti kulit kepala, wajah, dan dada bagian atas. Kondisi ini sering dianggap sebagai ketombe biasa, padahal merupakan gangguan kulit dengan mekanisme inflamasi yang lebih kompleks dan bersifat rekuren (mudah kambuh).
Dermatitis seboroik dapat terjadi pada semua usia, dengan dua puncak insiden utama yaitu pada bayi (cradle cap) dan dewasa usia 20–50 tahun.
Epidemiologi
Dermatitis seboroik diperkirakan mengenai sekitar 1–5% populasi umum. Prevalensinya lebih tinggi pada individu dengan:
Kulit berminyak
Stres kronis
Gangguan neurologis (misalnya Parkinson)
HIV/AIDS atau imunitas rendah
Etiopatogenesis
Penyebab pasti belum diketahui, namun beberapa faktor berperan:
1️⃣ Peran Malassezia
Jamur lipofilik genus Malassezia (terutama Malassezia globosa dan Malassezia restricta) berkolonisasi di area kaya sebum. Produk metabolitnya dapat memicu respons inflamasi.
2️⃣ Produksi Sebum Berlebih
Aktivitas kelenjar sebasea yang tinggi menyediakan lingkungan ideal bagi pertumbuhan Malassezia.
3️⃣ Respons Imun
Terjadi disregulasi sistem imun kulit yang memicu inflamasi kronis ringan hingga sedang.
4️⃣ Faktor Pencetus
Stres
Kurang tidur
Cuaca dingin
Kelelahan
Penyakit sistemik tertentu
Gambaran Klinis
Lokasi tersering:
Kulit kepala
Alis
Lipatan nasolabial
Retroaurikular
Dada bagian atas
Gejala:
Eritema
Skuama putih atau kekuningan berminyak
Gatal ringan–sedang
Ketombe persisten
Pada bayi, tampak plak bersisik tebal kekuningan di kulit kepala (cradle cap).
Diagnosis
Diagnosis umumnya klinis, berdasarkan:
Distribusi lesi khas
Skuama berminyak
Riwayat kekambuhan
Pemeriksaan penunjang jarang diperlukan, kecuali bila diagnosis meragukan (misalnya untuk menyingkirkan psoriasis atau tinea capitis).
Diagnosis Banding
Psoriasis
Tinea capitis
Dermatitis kontak
Lupus eritematosus
Tata Laksana
Tujuan terapi adalah mengontrol gejala dan mencegah kekambuhan, karena penyakit ini bersifat kronis.
1️⃣ Terapi Topikal
Sampo ketokonazol 2%
Selenium sulfide
Zinc pyrithione
Krim antijamur (ketokonazol, ciclopirox)
Kortikosteroid topikal potensi ringan (jangka pendek)
Inhibitor kalsineurin topikal (pimekrolimus/tacrolimus pada wajah)
2️⃣ Terapi Sistemik (Kasus Berat)
Antijamur oral (misalnya itraconazole)
Kortikosteroid sistemik (jarang dan selektif)
Pencegahan dan Perawatan Jangka Panjang
Dermatitis seboroik tidak dapat dicegah sepenuhnya, tetapi kekambuhan dapat dikontrol dengan:
Penggunaan sampo antijamur 1–2 kali per minggu sebagai maintenance
Menghindari produk berminyak berlebihan
Mengelola stres
Tidur cukup
Menghindari garukan
Edukasi Pasien
Tidak menular
Bukan akibat kebersihan yang buruk
Dapat kambuh terutama saat stres atau kelelahan
Perawatan rutin lebih efektif dibanding terapi hanya saat kambuh
Pada bayi umumnya self-limiting
Komplikasi
Infeksi sekunder
Lichenifikasi akibat garukan kronis
Gangguan kualitas hidup
Prognosis
Prognosis umumnya baik, namun penyakit cenderung kronis dan rekuren. Dengan terapi dan perawatan yang tepat, gejala dapat dikontrol dengan baik.
Daftar Pustaka
Borda LJ, Wikramanayake TC. Seborrheic Dermatitis and Dandruff: A Comprehensive Review. J Clin Investig Dermatol. 2015;3(2):10.
Fitzpatrick's Dermatology. 9th ed. New York: McGraw-Hill Education; 2019.
American Academy of Dermatology. Seborrheic dermatitis: Clinical overview. Updated 2023.
Perhimpunan Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin Indonesia. Panduan Praktik Klinis Dermatologi.