top of page

Dermatitis Kontak Iritan (DKI)

dr.Nanda | 07 Februari 2026

Dermatitis Kontak Iritan (DKI)

Pendahuluan
Dermatitis kontak iritan (DKI) merupakan salah satu penyakit kulit yang paling sering ditemukan dalam praktik klinis sehari-hari. Kondisi ini terjadi akibat paparan langsung zat iritan terhadap kulit yang menyebabkan kerusakan lapisan pelindung kulit dan memicu peradangan lokal. Berbeda dengan dermatitis kontak alergi, DKI tidak melibatkan mekanisme imunologis, sehingga dapat terjadi pada siapa saja.

Definisi
Dermatitis kontak iritan adalah peradangan kulit non-imunologis yang timbul akibat kontak langsung dengan bahan iritan, baik secara akut maupun kronik, tergantung pada konsentrasi, durasi, dan frekuensi paparan zat tersebut.

Epidemiologi
DKI merupakan bentuk dermatitis kontak yang paling sering dijumpai, mencakup sekitar 70–80% dari seluruh kasus dermatitis kontak. Angka kejadian lebih tinggi pada individu dengan paparan iritan berulang, terutama:
Tenaga kesehatan
Ibu rumah tangga
Pekerja industri dan pabrik
Pekerja salon dan cleaning service
Bagian tubuh yang paling sering terkena adalah tangan, karena paling sering terpapar bahan iritan.

Etiologi
Zat iritan yang dapat menyebabkan DKI meliputi:
Sabun, deterjen, cairan pembersih
Alkohol, antiseptik, dan hand sanitizer
Bahan kimia (asam, basa, pelarut organik)
Paparan air berlebihan (wet work)
Gesekan mekanik dan suhu ekstrem


Patofisiologi
Paparan zat iritan menyebabkan kerusakan langsung pada stratum corneum, lapisan terluar kulit yang berfungsi sebagai pelindung. Kerusakan ini mengakibatkan:
Peningkatan transepidermal water loss
Gangguan fungsi barrier kulit
Aktivasi keratinosit
Pelepasan mediator inflamasi
Proses tersebut menimbulkan inflamasi lokal tanpa keterlibatan sistem imun adaptif.

Manifestasi Klinis
Gejala DKI umumnya muncul segera atau beberapa jam setelah paparan, dan terbatas pada area kontak. Manifestasi klinis meliputi:
Eritema
Rasa perih atau panas (lebih dominan dibanding gatal)
Kulit kering dan bersisik
Fisura pada kasus kronik
Vesikel atau erosi pada paparan iritan kuat

Pada DKI kronik, kulit dapat tampak menebal, kering, dan terjadi hiperpigmentasi pasca inflamasi.

Diagnosis
Diagnosis DKI ditegakkan berdasarkan:
Anamnesis: riwayat paparan zat iritan berulang
Pemeriksaan fisik: lesi sesuai area kontak
Patch test: umumnya negatif, dilakukan bila dicurigai dermatitis kontak alergi sebagai diagnosis banding
Tidak diperlukan pemeriksaan penunjang khusus.

Diagnosis Banding
Dermatitis kontak alergi
Dermatitis atopik
Psoriasis
Infeksi jamur superfisial


Tatalaksana
Prinsip utama tatalaksana dermatitis kontak iritan meliputi:
Eliminasi atau pengurangan paparan iritan
Perbaikan skin barrier dengan emollient secara rutin
Kortikosteroid topikal potensi ringan hingga sedang pada fase inflamasi
Edukasi penggunaan alat pelindung diri
Antibiotik topikal atau sistemik hanya bila terdapat infeksi sekunder


Pencegahan
Upaya pencegahan sangat penting, terutama pada individu dengan risiko tinggi, meliputi:
Menghindari kontak langsung dengan bahan iritan
Menggunakan sarung tangan pelindung saat bekerja
Menggunakan sabun yang lembut dan bebas pewangi
Mengaplikasikan pelembap secara rutin, terutama setelah mencuci tangan


Prognosis
Prognosis DKI umumnya baik apabila paparan iritan dapat dihindari. Namun, paparan kronik yang terus berulang dapat menyebabkan kondisi persisten dan menurunkan kualitas hidup pasien.

Kesimpulan
Dermatitis kontak iritan merupakan penyakit kulit yang sering dijumpai dan bersifat non-imunologis. Diagnosis ditegakkan secara klinis, dan keberhasilan terapi sangat bergantung pada penghindaran iritan serta perawatan barrier kulit.

Daftar Pustaka
James WD, Elston DM, Treat JR, Rosenbach MA, Neuhaus IM. Andrews’ Diseases of the Skin: Clinical Dermatology. 13th ed. Philadelphia: Elsevier; 2020.
Wolff K, Johnson RA, Saavedra AP. Fitzpatrick’s Color Atlas and Synopsis of Clinical Dermatology. 8th ed. New York: McGraw-Hill; 2017.
Bolognia JL, Schaffer JV, Cerroni L. Dermatology. 4th ed. Philadelphia: Elsevier; 2018.
Johansen JD, Frosch PJ, Lepoittevin JP. Contact Dermatitis. 6th ed. Berlin: Springer; 2011.
Nosbaum A, Vocanson M, Rozieres A, Hennino A, Nicolas JF. Allergic and irritant contact dermatitis. European Journal of Dermatology. 2009;19(4):325–332.
Proksch E, Brandner JM, Jensen JM. The skin: an indispensable barrier. Experimental Dermatology. 2008;17(12):1063–1072.
World Health Organization. Occupational Skin Diseases. Geneva: WHO; 2016.

  • Grey Facebook Icon
  • Grey Twitter Icon

Klinik Satriabudi Dharma Medika © 2023

Thanks for submitting!

bottom of page