BRONKOPNEUMONI
dr.Nanda | 13 Februari 2026

Pendahuluan
Bronkopneumoni merupakan salah satu bentuk pneumonia yang ditandai dengan peradangan akut pada bronkiolus dan alveoli di sekitarnya. Proses inflamasi bersifat multifokal (patchy) dan tersebar di beberapa segmen atau lobus paru. Penyakit ini dapat terjadi pada semua kelompok usia, namun lebih sering dijumpai pada anak-anak, lansia, serta individu dengan sistem imun yang menurun.
Bronkopneumoni termasuk dalam spektrum pneumonia komunitas apabila terjadi di luar fasilitas pelayanan kesehatan, dan menjadi salah satu penyebab morbiditas dan mortalitas yang cukup tinggi di negara berkembang.
Etiologi
Bronkopneumoni paling sering disebabkan oleh infeksi bakteri, namun dapat pula disebabkan oleh virus, jamur, maupun aspirasi.
Beberapa mikroorganisme yang sering menjadi penyebab antara lain:
Streptococcus pneumoniae
Haemophilus influenzae
Staphylococcus aureus
Bakteri gram negatif (terutama pada pasien rawat inap atau dengan komorbid)
Virus influenza dan Respiratory Syncytial Virus (RSV)
Pada pasien dengan gangguan kesadaran atau gangguan refleks menelan, aspirasi juga dapat menjadi penyebab bronkopneumoni.
Patofisiologi
Infeksi dimulai ketika mikroorganisme masuk ke saluran pernapasan bawah dan mengatasi mekanisme pertahanan tubuh. Agen infeksi kemudian berkembang biak di bronkiolus dan menyebar ke alveoli, memicu respons inflamasi.
Terjadi infiltrasi sel-sel inflamasi (terutama neutrofil) serta pembentukan eksudat purulen yang mengisi lumen bronkiolus dan alveoli. Akibatnya, terjadi gangguan ventilasi dan perfusi serta penurunan pertukaran oksigen, yang secara klinis menimbulkan sesak napas dan hipoksemia.
Distribusi inflamasi yang tidak merata menyebabkan gambaran konsolidasi paru yang tersebar (patchy), berbeda dengan pneumonia lobaris yang mengenai satu lobus secara homogen.
Faktor Risiko
Beberapa faktor yang meningkatkan risiko terjadinya bronkopneumoni meliputi:
Usia ekstrem (anak <5 tahun dan lansia)
Malnutrisi
Penyakit kronis (diabetes melitus, penyakit jantung, PPOK)
Imunosupresi
Paparan asap rokok
Kepadatan hunian dan ventilasi buruk
Riwayat infeksi saluran napas atas sebelumnya
Manifestasi Klinis
Gejala bronkopneumoni dapat berkembang secara akut maupun subakut, antara lain:
Demam
Batuk (dengan atau tanpa dahak)
Sesak napas
Napas cepat (takipnea)
Nyeri dada pleuritik
Lemas dan penurunan nafsu makan
Pada anak dapat ditemukan retraksi dinding dada, napas cuping hidung, dan rewel. Pada lansia, gejala bisa tidak khas dan hanya berupa penurunan kesadaran atau kelemahan umum.
Diagnosis
Diagnosis ditegakkan berdasarkan:
1. Anamnesis dan Pemeriksaan Fisik
Didapatkan keluhan respiratori akut disertai temuan auskultasi berupa ronki basah atau suara napas melemah.
2. Pemeriksaan Penunjang
Foto toraks menunjukkan infiltrat atau konsolidasi multifokal
Pemeriksaan darah dapat menunjukkan leukositosis pada infeksi bakteri
Pemeriksaan kultur sputum atau darah dilakukan pada kasus tertentu
Penilaian derajat keparahan dapat menggunakan skor seperti CURB-65 untuk menentukan kebutuhan rawat inap.
Penatalaksanaan
Penatalaksanaan bronkopneumoni meliputi terapi kausal dan suportif.
1. Terapi Antibiotik
Antibiotik empiris diberikan berdasarkan dugaan penyebab dan kondisi klinis pasien.
Pada pneumonia komunitas rawat jalan tanpa komorbid, amoksisilin sering menjadi pilihan lini pertama.
Pada pasien dengan komorbid dapat dipertimbangkan kombinasi beta-laktam dengan makrolida atau alternatif lain sesuai pedoman yang berlaku.
2. Terapi Suportif
Oksigen bila saturasi < 92%
Antipiretik untuk demam
Hidrasi adekuat
Istirahat cukup
Pasien dengan tanda kegawatan seperti hipoksemia berat, hipotensi, atau gangguan kesadaran memerlukan perawatan di rumah sakit.
Komplikasi
Jika tidak ditangani secara adekuat, bronkopneumoni dapat menyebabkan:
Gagal napas
Sepsis
Efusi pleura
Abses paru
Perburukan penyakit komorbid
Pencegahan
Upaya pencegahan meliputi:
Imunisasi (PCV, Hib, influenza)
Pemberian ASI eksklusif pada bayi
Perbaikan gizi
Menghindari paparan asap rokok
Menjaga kebersihan tangan
Kesimpulan
Bronkopneumoni adalah infeksi paru dengan pola inflamasi multifokal yang mengenai bronkiolus dan alveoli. Penyakit ini dapat menimbulkan gangguan pertukaran oksigen dan berpotensi menyebabkan komplikasi serius apabila tidak ditangani dengan tepat. Diagnosis yang cepat dan terapi sesuai pedoman sangat penting untuk menurunkan angka morbiditas dan mortalitas.
Daftar Pustaka
Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI). Pneumonia Komunitas: Pedoman Diagnosis dan Penatalaksanaan di Indonesia. Jakarta: PDPI; 2014.
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Pedoman Nasional Pelayanan Kedokteran Pneumonia Anak. Jakarta: Kemenkes RI; 2017.
World Health Organization. Revised WHO Classification and Treatment of Pneumonia in Children at Health Facilities. Geneva: WHO; 2014.
Jameson JL, Fauci AS, Kasper DL, et al. Harrison’s Principles of Internal Medicine. 21st ed. New York: McGraw-Hill; 2022.
Kliegman RM, St Geme JW. Nelson Textbook of Pediatrics. 21st ed. Philadelphia: Elsevier; 2020.