ASMA
dr.Nanda | 25 Maret 2026

1. Definisi
Asma adalah penyakit heterogen yang ditandai oleh inflamasi kronik saluran napas, dengan gejala berupa mengi, sesak napas, dada terasa berat, dan batuk yang bervariasi dari waktu ke waktu, serta disertai keterbatasan aliran udara ekspirasi yang bersifat variabel dan umumnya reversibel.
2. Faktor Risiko
A. Faktor host
Genetik
Atopi (dermatitis atopik, rhinitis alergi)
Obesitas
B. Faktor lingkungan
Alergen (debu, tungau, bulu hewan)
Infeksi virus
Asap rokok
Polusi udara
Paparan pekerjaan
3. Patofisiologi
Asma melibatkan inflamasi kronik jalan napas yang menyebabkan:
Aktivasi sel inflamasi (eosinofil, mast cell, limfosit T)
Pelepasan mediator (histamin, leukotrien, sitokin)
Bronkokonstriksi
Edema mukosa
Hipersekresi mukus
Dalam jangka panjang dapat terjadi airway remodeling:
Penebalan dinding bronkus
Hipertrofi otot polos
Produksi mukus berlebih
➡️ Hasil akhir: penyempitan jalan napas yang bersifat variabel dan reversibel
4. Gejala Klinis
Sesak napas
Mengi (wheezing)
Batuk (terutama malam/dini hari)
Dada terasa berat
Karakteristik:
Hilang timbul
Dipicu oleh alergen, aktivitas, udara dingin, infeksi
5. Diagnosis
A. Anamnesis
Gejala respirasi berulang dan variabel
Riwayat pencetus
Riwayat keluarga
B. Pemeriksaan fisik
Wheezing ekspirasi
Pada kondisi berat: penggunaan otot bantu napas
C. Pemeriksaan penunjang
Spirometri:
FEV1/FVC menurun
Reversibilitas:
Peningkatan FEV1 ≥12% dan ≥200 mL setelah bronkodilator
Alternatif:
Peak Expiratory Flow (PEF) variability
6. Derajat Asma (Berdasarkan Frekuensi Gejala)
1. Asma Intermiten
Gejala ≤2 kali/minggu
Gejala malam ≤2 kali/bulan
Fungsi paru normal antar serangan
2. Asma Persisten Ringan
Gejala >2 kali/minggu (tidak tiap hari)
Gejala malam 3–4 kali/bulan
3. Asma Persisten Sedang
Gejala harian
Gejala malam >1 kali/minggu
Aktivitas terganggu
4. Asma Persisten Berat
Gejala terus-menerus
Gejala malam sering
Aktivitas sangat terbatas
7. Penilaian Kontrol Asma
Terkontrol
Sebagian terkontrol
Tidak terkontrol
Parameter:
Gejala siang hari
Terbangun malam
Penggunaan obat pelega
Aktivitas terganggu
8. Tatalaksana
A. Non-Farmakologis
Edukasi pasien
Hindari pencetus
Berhenti merokok
Teknik inhaler yang benar
B. Farmakologis (Stepwise)
Reliever
ICS-formoterol dosis rendah (utama)
Alternatif: SABA + ICS
Controller
Step 1–2: ICS dosis rendah (PRN atau harian)
Step 3: ICS + LABA dosis rendah
Step 4: ICS + LABA dosis sedang
Step 5: ICS dosis tinggi + tambahan (LAMA/biologik)
9. Eksaserbasi Asma
Tanda bahaya
Sesak berat
Sulit berbicara
RR meningkat
SpO₂ menurun
Tatalaksana
Oksigen
SABA nebulisasi
Ipratropium bromide
Kortikosteroid sistemik
10. Komplikasi
Status asthmaticus
Gagal napas
Air trapping
11. Prognosis
Baik jika terkontrol
Memburuk jika:
Tidak patuh terapi
Paparan pencetus berlanjut
12. Pencegahan
Menghindari alergen
Kontrol rutin
Kepatuhan terapi
Edukasi penggunaan inhaler
Kesimpulan
Asma adalah penyakit inflamasi kronik dengan gejala yang bervariasi dan reversibel. Penatalaksanaan menekankan terapi antiinflamasi, pengendalian faktor pencetus, serta pendekatan bertahap sesuai tingkat keparahan dan kontrol.
Daftar Pustaka
Global Initiative for Asthma (GINA).
Global Strategy for Asthma Management and Prevention, 2025 Update.
Available from: https://ginasthma.org
Harrison's Principles of Internal Medicine.
New York: McGraw-Hill Education; 2022.
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.
Pedoman Nasional Pelayanan Kedokteran Tata Laksana Asma. Jakarta: Kemenkes RI.
British Thoracic Society, Scottish Intercollegiate Guidelines Network.
British Guideline on the Management of Asthma.
National Heart, Lung, and Blood Institute.
Expert Panel Report 3: Guidelines for the Diagnosis and Management of Asthma.