Apakah Gigi Bisa ‘Mati’? Ini Tanda-Tandanya
drg. Refina | 06 April 2026

Kesehatan gigi dan mulut merupakan bagian penting dari kesehatan umum yang memengaruhi fungsi kunyah, kenyamanan, dan kualitas hidup. Berdasarkan Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023, sebanyak 47,6% penduduk Indonesia mengalami masalah gigi dan mulut, dengan prevalensi di DKI Jakarta mencapai 34,2%, menunjukkan tingginya beban penyakit di wilayah perkotaan. Salah satu masalah yang sering ditemukan adalah gigi berlubang yang berkembang hingga mengenai pulpa, mulai dari pulpitis reversibel, pulpitis ireversibel, hingga nekrosis pulpa (kematian jaringan gigi). Kondisi ini dapat menyebabkan nyeri hebat, infeksi periapikal, kehilangan gigi permanen, serta menurunkan kualitas hidup, terutama pada orang dewasa.
Penyakit pulpa umumnya disebabkan oleh bakteri, trauma, panas, dan bahan kimia. Bakteri merupakan penyebab utama yang masuk melalui dentin akibat karies, kebocoran restorasi, terbukanya pulpa karena trauma, atau penyebaran infeksi dari jaringan sekitar. Trauma fisik, baik mekanis maupun termal, juga berperan, seperti benturan keras saat olahraga, kecelakaan, prosedur kedokteran gigi, serta panas dari alat atau proses pemolesan gigi. Sementara itu, faktor kimia jarang terjadi, misalnya akibat bahan etsa pada dentin terbuka yang dapat memicu nyeri.
Nekrosis pulpa adalah keadaan dimana pulpa atau jaringan gigi sudah mati, aliran pembuluh darah sudah tidak ada, dan syaraf pulpa sudah tidak berfungsi kembali. Pulpa yang sudah sepenuhnya nekrosis, maka gigi tersebut sering kali tidak timbul gejala apapun hingga gejala gejala timbul sebagai hasil dari perkembangan proses penyakit ke dalam jaringan periradikuler. Sebagian besar nekrosis pulpa terjadi karena komplikasi dari pulpitis akut dan kronik yang tidak mendapat perawatan yang baik dan adekuat. Pada pemeriksaan visual didapatkan lubang yang sudah melibatkan pulpa dan disertai perubahan warna gigi menjadi abu kehitaman.
Oleh karena itu, diperlukan upaya promotif dan preventif yang lebih intensif di masyarakat, seperti peningkatan kesadaran akan deteksi dini karies, pemeriksaan gigi rutin, serta penguatan layanan kesehatan primer untuk diagnosis dan penanganan dini sebelum berkembang menjadi penyakit pulpa.
Sumber :
1. Kartinawati, A. T., & Asy’ari, A. K. (2021). Penyakit pulpa dan perawatan saluran akar satu kali kunjungan: Literature review. JIKG (Jurnal Ilmu Kedokteran Gigi), 4(2).
2. Hyta, D., Darmayanti, S., & Yusuf, I. (2026). Karakteristik kasus penyakit pulpa pada pasien perawatan endodontik dengan pembiayaan BPJS di RSUD Tarakan Jakarta. Jurnal Multidisiplin Ilmu Akademik (JMIA), 3(2).