Peran Gizi dalam Kesehatan Gigi dan Mulut
drg. Refina | 08 Desember 2025

Pola makan dan nutrisi memiliki pengaruh besar terhadap kesehatan mulut, termasuk pada perkembangan dan perjalanan berbagai penyakit seperti karies, penyakit periodontal, erosi, dan kondisi lainnya. Nutrisi mencakup zat gizi mikro (vitamin dan mineral) serta zat gizi makro (karbohidrat, protein, dan lemak) yang dibutuhkan tubuh, sementara diet mengacu pada jenis makanan yang dikonsumsi. Hubungan antara diet, nutrisi, dan kesehatan mulut bersifat dua arah, kerusakan atau gangguan pada rongga mulut juga dapat memengaruhi kemampuan seseorang untuk makan.
Berbagai faktor diet diduga memengaruhi kesehatan rongga mulut, termasuk zat gizi makro dan mikro, vitamin, sifat pH makanan, serta kebiasaan konsumsi. Selain itu, tahap perkembangan, kondisi medis tertentu, dan status sosial ekonomi dapat menentukan kebutuhan nutrisi atau pertimbangan diet khusus. Sebagai contoh, pasien lanjut usia mungkin mengalami kehilangan gigi, menurunnya kemampuan mengunyah, serta berkurangnya nafsu makan, yang pada akhirnya dapat memengaruhi status nutrisi mereka. Sebuah tinjauan sistematis yang menilai hubungan antara asupan makanan dan kesehatan mulut pada lansia menemukan bahwa kehilangan gigi berkaitan dengan perubahan pola makan dan risiko kekurangan nutrisi.
1. Nutrisi untuk Menjaga Kesehatan Gigi
Makanan bergizi membantu menjaga kekuatan gigi dan kesehatan gusi. Nutrisi pentingnya meliputi:
a. Kalsium untuk memperkuat gigi dan tulang (dari susu, sayuran hijau, ikan). Kalsium penting untuk pembentukan dan pemeliharaan tulang serta gigi, termasuk hidroksiapatit. Sumber kalsium utama adalah susu, produk susu, dan makanan fortifikasi. RDA kalsium:
1–3 tahun: 700 mg/hari
4–8 tahun: 1000 mg/hari
b. Vitamin D untuk membantu penyerapan kalsium (dari sinar matahari dan ikan berlemak). Vitamin D berperan dalam mengatur metabolisme kalsium dan fosfat. Beberapa studi observasional menunjukkan bahwa asupan vitamin D selama kehamilan dan kadar vitamin D yang lebih tinggi pada ibu hamil mungkin berhubungan dengan risiko karies yang lebih rendah pada anak.
c. Vitamin C untuk menjaga gusi tetap sehat dan mencegah peradangan (dari buah dan sayuran).
2. Mengurangi Konsumsi Gula
Hubungan antara karbohidrat dan karies gigi dipengaruhi oleh jenis karbohidrat yang dikonsumsi (gula atau pati), karena potensi karies suatu karbohidrat bergantung pada seberapa mudah bakteri mulut memfermentasinya. Secara khusus, gula dianggap sebagai faktor utama penyebab karies. Istilah free sugar (gula bebas) mencakup semua gula yang ditambahkan ke makanan/minuman, serta gula alami yang terdapat dalam jus buah, konsentrat, madu, dan sirup alami. Gula alami maupun gula bebas (seperti sukrosa, glukosa, fruktosa) merupakan faktor utama yang diperlukan dalam terbentuknya karies. Sukrosa, gabungan glukosa dan fruktosa, adalah gula yang paling kariogenik. Gula dapat diubah bakteri menjadi asam yang merusak enamel dan menyebabkan gigi berlubang. Karena itu, batasi makanan/minuman manis dan pilih camilan sehat seperti buah, sayur, dan kacang.
3. Makanan yang Baik untuk Gigi
a. Buah dan sayur segar membantu membersihkan mulut saat dikunyah.
b. Produk susu seperti susu, yogurt, dan keju membantu menguatkan enamel dan menetralkan asam.
c. Teh hijau dapat mengurangi bakteri dan pembentukan plak.
4. Pentingnya Minum Air
Air membantu membersihkan sisa makanan, menjaga mulut tetap lembap, dan mencegah mulut kering yang dapat memicu masalah gusi.
5. Pemeriksaan Gigi Secara Rutin
Selain menjaga pola makan, rutin ke dokter gigi penting untuk mendeteksi masalah sejak dini dan mendapatkan saran perawatan serta diet yang tepat.
Sumber :
1. American Dental Association. (2023, August 30). Nutrition and oral health. ADA Library. https://www.ada.org/resources/ada-library/oral-health-topics/nutrition-and-oral-health
2. Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Gadjah Mada. (2024, 10 Agustus). Peran diet seimbang dalam menjaga kesehatan gigi dan mulut. https://fkg.ugm.ac.id/peran-diet-seimbang-dalam-menjaga-kesehatan-gigi-dan-mulut/