top of page

🚨 WASPADA LEPTOSPIROSIS SAAT BANJIR 🚨

dr. Nanda | 19 Desember 2025

🚨 WASPADA LEPTOSPIROSIS SAAT BANJIR 🚨


Pendahuluan
Leptospirosis adalah penyakit infeksi zoonosis yang disebabkan oleh bakteri Leptospira spp. Penyakit ini banyak ditemukan di wilayah tropis dan subtropis, termasuk Indonesia, dan sering mengalami peningkatan kasus pada musim hujan dan pasca banjir. Kondisi banjir mempermudah penyebaran bakteri melalui air dan tanah yang tercemar urine hewan, terutama tikus.
Leptospirosis dapat menimbulkan gejala ringan hingga berat yang mengancam jiwa bila tidak ditangani dengan cepat dan tepat.

Etiologi
Leptospirosis disebabkan oleh bakteri spirochaeta dari genus Leptospira, terutama Leptospira interrogans.
Bakteri ini hidup di ginjal hewan reservoir dan dikeluarkan melalui urine. Hewan reservoir tersering adalah tikus, namun juga dapat berasal dari anjing, sapi, babi, dan hewan ternak lainnya.

Epidemiologi
Leptospirosis ditemukan di seluruh dunia dengan insidens tertinggi di daerah:
Curah hujan tinggi
Sanitasi buruk
Kepadatan tikus tinggi

Kasus sering meningkat setelah banjir, genangan air, dan bencana alam. Kelompok berisiko tinggi meliputi masyarakat terdampak banjir, petugas kebersihan, petani, pekerja saluran air, dan relawan bencana.

Cara Penularan
Penularan terjadi melalui:
Kontak kulit yang lecet atau luka kecil dengan air/tanah tercemar
Masuk melalui selaput lendir (mata, hidung, mulut)
Konsumsi air atau makanan yang terkontaminasi
Bakteri tidak menular antar manusia secara langsung dalam kondisi normal.

Patofisiologi Leptospirosis
Fase masuk bakteri
Leptospira masuk ke tubuh melalui luka kecil pada kulit atau mukosa. Bakteri kemudian menyebar melalui aliran darah (bakteremia).

Fase leptospiremia (fase akut)
Terjadi penyebaran bakteri ke berbagai organ. Pada fase ini muncul gejala awal seperti demam, nyeri otot, dan sakit kepala akibat respon inflamasi sistemik.

Invasi organ & kerusakan jaringan
Bakteri berikatan dengan endotel pembuluh darah dan jaringan organ, menyebabkan:

Kerusakan hati → ikterus

Kerusakan ginjal → gagal ginjal akut

Kerusakan paru → perdarahan alveolar

Keterlibatan sistem saraf → meningitis

Respons imun
Respons imun tubuh berperan besar dalam terjadinya kerusakan organ. Pada kasus berat dapat terjadi vasculitis, kebocoran kapiler, dan kegagalan multi-organ (Weil’s disease).


Manifestasi Klinis
Gejala awal (ringan–sedang)
Demam mendadak
Sakit kepala
Nyeri otot (terutama betis dan punggung bawah)
Lemas
Mata merah
Mual, muntah, diare

Gejala berat / komplikasi
Ikterus
Perdarahan (gusi, saluran cerna, paru)
Gagal ginjal akut
Meningitis
Sesak napas
Syok dan kegagalan multi-organ
Masa inkubasi berkisar 2–30 hari, umumnya 7–14 hari.

Diagnosis
Diagnosis ditegakkan berdasarkan:
Riwayat paparan (banjir, air kotor, lingkungan tikus)
Gambaran klinis

Pemeriksaan laboratorium:
Serologi (IgM anti-Leptospira)
PCR Leptospira
Pemeriksaan fungsi ginjal dan hati


Penatalaksanaan
Leptospirosis merupakan penyakit yang dapat disembuhkan bila ditangani dini.
Terapi utama:
Antibiotik (doksisiklin, penisilin, atau alternatif sesuai kondisi)
Terapi suportif: cairan, koreksi elektrolit, monitoring organ
Kasus berat memerlukan perawatan rumah sakit dan pemantauan ketat.

Pencegahan Leptospirosis (Kunci di Masa Banjir)
Menghindari kontak langsung dengan air banjir
Menggunakan alat pelindung diri (sepatu boots, sarung tangan)
Menutup luka dengan perban kedap air
Mandi dan cuci tangan pakai sabun setelah terpapar air banjir
Mengendalikan populasi tikus
Mengonsumsi air minum yang bersih dan matang
Segera memeriksakan diri bila demam setelah banjir


Kesimpulan
Leptospirosis adalah penyakit infeksi serius yang sering meningkat saat banjir. Gejalanya dapat menyerupai penyakit lain sehingga kewaspadaan klinis sangat penting. Pencegahan melalui perilaku hidup bersih dan sehat serta deteksi dini merupakan kunci utama menurunkan angka kesakitan dan kematian akibat leptospirosis.

📚 Daftar Pustaka
World Health Organization (WHO). Leptospirosis: Fact Sheet and Prevention Strategies. 2024–2025.
Centers for Disease Control and Prevention (CDC). Leptospirosis – Clinical Overview and Prevention. Updated 2025.
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Pedoman Pencegahan dan Pengendalian Leptospirosis. 2024–2025.
Haake DA, Levett PN. Leptospirosis in Humans. Current Topics in Microbiology and Immunology. Updated review 2024.
Bharti AR et al. Leptospirosis: A Zoonotic Disease of Global Importance. Lancet Infectious Diseases.



  • Grey Facebook Icon
  • Grey Twitter Icon

Klinik Satriabudi Dharma Medika © 2023

Thanks for submitting!

bottom of page