🌙 Obstructive Sleep Apnea (OSA): Penyebab, Gejala, Dampak, dan Cara Mengatasinya
dr. Nanda | 12 Desember 2025

Obstructive Sleep Apnea (OSA) adalah gangguan tidur ketika jalan napas atas tersumbat berulang kali saat tidur, sehingga aliran udara berhenti ≥10 detik. Saat napas terhenti, kadar oksigen turun, otak memaksa tubuh terbangun sejenak untuk bernapas kembali. Kondisi ini terjadi berulang sepanjang malam, menyebabkan tidur tidak berkualitas dan berdampak pada kesehatan jangka panjang.
🔍 Penyebab OSA
Sumbatan pada jalan napas atas terjadi karena kombinasi faktor anatomis, fisiologis, dan gaya hidup. Penyebab yang paling sering meliputi:
1. Obesitas atau lemak leher berlebih
Jaringan lemak menekan dinding faring → jalan napas menyempit saat tidur.
2. Ukuran tonsil/adenoid besar
Sering terjadi pada anak, menyebabkan hambatan aliran udara.
3. Struktur anatomi wajah
Seperti retrognathia (rahang bawah kecil), lidah besar, atau langit-langit lunak yang panjang.
4. Usia & jenis kelamin
Lebih sering pada usia >40 tahun dan laki-laki.
5. Riwayat keluarga OSA
6. Merokok & alkohol
Relaksasi otot faring meningkat → memudahkan kolaps jalan napas.
7. Hidung tersumbat kronis / rhinitis
⚠️ Gejala OSA
Gejala dapat ringan hingga berat. Gejala berat biasanya mengganggu aktivitas dan meningkatkan risiko komplikasi.
Gejala Utama
Ngorok keras (persistent snoring)
Henti napas saat tidur (disaksikan pasangan)
Terbangun tersedak / napas megap-megap
Mengantuk berlebihan di siang hari
Sakit kepala pagi hari
Konsentrasi menurun, mudah lupa
Mulut kering saat bangun tidur
Red Flags OSA (Tanda Bahaya)
Mengantuk sampai hampir tertidur saat mengemudi
Hipertensi yang sulit terkontrol
Palpitasi atau irama jantung tidak teratur saat tidur
Ngorok semakin keras, tidak membaik meski ubah posisi
Otot leher besar (collar size ↑)
Tertidur tanpa sengaja saat aktivitas ringan
💥 Dampak OSA Jika Tidak Diobati
OSA tidak hanya mengganggu tidur, tetapi juga bisa menyebabkan masalah kesehatan serius:
1. Gangguan jantung dan pembuluh darah
Hipertensi
Aritmia (termasuk atrial fibrillation)
Stroke
Gagal jantung
2. Metabolik
Resistensi insulin
Memperburuk kontrol diabetes
3. Kognitif & Psikologis
Penurunan memori
Mood swings
Risiko kecelakaan kerja/berkendara meningkat
4. Pada kehamilan
Risiko preeklampsia meningkat
Gangguan tidur berat
Risiko bayi BBLR
🧪 Diagnosis OSA
Diagnosis utama dilakukan melalui Polysomnography (sleep study), yang menilai:
AHI (Apnea-Hypopnea Index)
Saturasi oksigen
Pola tidur
Klasifikasi OSA berdasarkan AHI:
Ringan: 5–14
Sedang: 15–29
Berat: ≥30
🛠️ Penanganan OSA
Tatalaksana disesuaikan derajat keparahan dan kondisi masing-masing pasien.
1. CPAP (Continuous Positive Airway Pressure)
Standar emas terapi OSA. Mencegah kolaps jalan napas dengan tekanan positif.
2. Penurunan berat badan
Sangat efektif terutama pada OSA karena obesitas.
3. Positional therapy
Menghindari tidur telentang.
4. Oral Appliance (Alat gigit rahang bawah)
Untuk OSA ringan–sedang.
5. Operasi
Tonsilektomi, UPPP, koreksi mandibula bila ada kelainan anatomi.
6. Manajemen komorbid
Mengatasi rhinitis, GERD, hipertensi, dan DM yang terkait.
🛡️ Pencegahan
Pertahankan berat badan ideal
Hindari alkohol & merokok
Perbaiki pola tidur
Olahraga teratur
Menghindari tidur telentang
Mengatasi sumbatan hidung kronis
📚 Daftar Pustaka
American Academy of Sleep Medicine (AASM). Clinical Practice Guideline for the Treatment of Obstructive Sleep Apnea in Adults. AASM Guidelines. 2023.
Peppard PE, Young T, Barnet JH, et al. Increased Prevalence of Sleep-Disordered Breathing in Adults. Am J Epidemiol. 2013;177(9):1006–1014.
Senaratna CV, Perret JL, Lodge C, et al. Prevalence of Obstructive Sleep Apnea in the General Population: A Systematic Review. Sleep Med Rev. 2017;34:70–81.
Kapur VK, Auckley DH, Chowdhuri S, et al. Clinical Practice Guideline for Diagnostic Testing for Adult Obstructive Sleep Apnea. J Clin Sleep Med. 2017;13(3):479–504.
Jordan AS, McSharry DG, Malhotra A. Adult Obstructive Sleep Apnea. Lancet. 2014;383(9918):736–747.