ā° Efek Telat Makan bagi Kesehatan
dr. Nanda | 13 Desember 2025

Pendahuluan
Telat makan sering dianggap hal sepele, terutama pada orang dengan aktivitas padat. Padahal, kebiasaan menunda makan secara berulang dapat menimbulkan berbagai dampak bagi kesehatan, baik jangka pendek maupun jangka panjang. Tubuh manusia membutuhkan asupan energi secara teratur untuk menjaga fungsi organ, keseimbangan hormon, dan metabolisme tetap optimal.
Pengertian Telat Makan
Telat makan adalah kondisi ketika seseorang menunda waktu makan dari jadwal normalnya, sehingga tubuh berada dalam keadaan lambung kosong dan defisit energi lebih lama dari yang seharusnya. Telat makan dapat terjadi secara tidak sengaja (karena pekerjaan, stres, atau lupa) maupun disengaja, misalnya pada pola diet tertentu. Namun, telat makan yang tidak terencana dan tidak sesuai kondisi tubuh berisiko menimbulkan gangguan kesehatan.
Efek Telat Makan bagi Kesehatan
1. Ketidakstabilan Gula Darah
Terlambat makan menyebabkan kadar glukosa darah menurun. Kondisi ini dapat menimbulkan gejala seperti lemas, gemetar, pusing, berkeringat dingin, dan sulit berkonsentrasi. Pada penderita diabetes atau individu yang berisiko hipoglikemia, telat makan dapat berbahaya dan memicu komplikasi serius.
2. Peningkatan Asam Lambung
Lambung tetap memproduksi asam meskipun tidak ada makanan. Jika telat makan sering terjadi, asam lambung dapat mengiritasi dinding lambung dan kerongkongan, sehingga memicu nyeri ulu hati, mual, perut kembung, serta memperberat gastritis dan GERD.
3. Mudah Lelah dan Penurunan Konsentrasi
Otak menggunakan glukosa sebagai sumber energi utama. Saat tubuh kekurangan asupan energi akibat telat makan, fungsi kognitif dapat terganggu. Akibatnya, seseorang menjadi mudah lelah, sulit fokus, mengantuk, dan produktivitas menurun.
4. Memicu Pola Makan Tidak Sehat
Telat makan sering berujung pada rasa lapar berlebihan. Saat akhirnya makan, seseorang cenderung makan dalam porsi besar dan memilih makanan tinggi gula serta lemak. Dalam jangka panjang, kebiasaan ini dapat menyebabkan peningkatan berat badan dan gangguan metabolisme.
5. Gangguan Mood dan Emosi
Penurunan gula darah akibat telat makan dapat memengaruhi hormon stres seperti kortisol. Hal ini membuat seseorang lebih mudah marah, cemas, gelisah, dan mengalami perubahan mood.
6. Risiko Metabolik Jangka Panjang
Jika telat makan menjadi kebiasaan, risiko gangguan metabolik meningkat, seperti resistensi insulin, dislipidemia, dan peningkatan risiko penyakit kardiovaskular. Pola makan tidak teratur juga dikaitkan dengan gangguan ritme sirkadian tubuh.
Siapa yang Sebaiknya Menghindari Telat Makan
Telat makan tidak dianjurkan pada:
Penderita diabetes mellitus
Penderita GERD dan gastritis
Ibu hamil dan menyusui
Anak-anak
Individu dengan riwayat hipoglikemia
Tips Mencegah Telat Makan
Mengatur jadwal makan teratur (3 kali makan utama dan 2ā3 kali selingan)
Menyiapkan camilan sehat seperti buah atau kacang
Tidak menunda makan saat sudah lapar
Minum air putih yang cukup
Menyesuaikan pola makan dengan aktivitas harian
Mekanisme Fisiologis Tubuh Saat Telat Makan
Saat telat makan, tubuh mengalami perubahan fisiologis sebagai respons terhadap kekurangan energi. Penurunan kadar glukosa darah akan memicu peningkatan hormon stres seperti kortisol dan adrenalin untuk mempertahankan energi. Pada saluran cerna, lambung tetap memproduksi asam meskipun kosong, sehingga meningkatkan risiko iritasi mukosa. Selain itu, pola makan tidak teratur dapat mengganggu ritme sirkadian yang berperan penting dalam regulasi hormon metabolik seperti insulin, leptin, dan ghrelin.
Telat Makan vs Intermittent Fasting
Telat makan sering disamakan dengan intermittent fasting, padahal keduanya berbeda. Telat makan umumnya tidak terencana dan sering diakhiri dengan makan berlebihan. Sementara itu, intermittent fasting dilakukan secara terstruktur dengan waktu makan jelas dan asupan nutrisi terkontrol. Oleh karena itu, manfaat kesehatan yang ditemukan pada intermittent fasting tidak dapat disamakan dengan kebiasaan telat makan sembarangan.
Dampak Telat Makan pada Kelompok Tertentu
Penderita diabetes mellitus: berisiko mengalami hipoglikemia.
Pasien dengan GERD atau gastritis: keluhan nyeri ulu hati dan refluks dapat memburuk.
Ibu hamil dan menyusui: mudah lemas, mual, dan berisiko kekurangan energi.
Anak dan remaja: dapat mengganggu konsentrasi belajar dan pertumbuhan.
Tanda Tubuh Tidak Tahan Telat Makan
Beberapa tanda yang menunjukkan tubuh tidak cocok dengan kebiasaan telat makan antara lain gemetar, keringat dingin, nyeri ulu hati berulang, mudah marah, dan rasa lapar berlebihan yang berujung makan tidak terkontrol.
Contoh Kasus Singkat
Seorang pekerja kantoran sering melewatkan sarapan dan makan siang terlambat karena pekerjaan. Pasien mengeluh nyeri ulu hati, mudah lelah, dan sulit berkonsentrasi. Setelah dilakukan edukasi dan perbaikan jadwal makan, keluhan berangsur membaik.
Tips Praktis Mencegah Telat Makan
Mengatur alarm pengingat waktu makan.
Menyiapkan bekal atau camilan sehat.
Menyesuaikan jadwal makan dengan jam kerja atau aktivitas.
Tidak menunggu lapar berat untuk makan.
Kesimpulan
Telat makan bukan hanya menimbulkan rasa lapar, tetapi dapat berdampak pada kestabilan gula darah, kesehatan lambung, fungsi otak, mood, hingga meningkatkan risiko gangguan metabolik. Makan tepat waktu merupakan langkah pencegahan sederhana namun penting untuk menjaga kesehatan jangka panjang.
š Daftar Pustaka
Patterson RE, Sears DD. Metabolic effects of intermittent fasting. Annual Review of Nutrition. 2017;37:371ā393.
de Cabo R, Mattson MP. Effects of intermittent fasting on health, aging, and disease. New England Journal of Medicine. 2019;381(26):2541ā2551.
Anton SD, Moehl K, Donahoo WT, et al. Flipping the metabolic switch: Understanding and applying the health benefits of fasting. Obesity. 2018;26(2):254ā268.
Chaix A, Manoogian ENC, Melkani GC, Panda S. Time-restricted eating to prevent and manage chronic metabolic diseases. Annual Review of Nutrition. 2019;39:291ā315.
Benton D, Parker PY. Breakfast, blood glucose, and cognition. American Journal of Clinical Nutrition. 1998;67(4):772Sā778S.